Arzeti Bilbina: Jangan Hanya Soroti Kinerja Anggota DPR yang Selebritis
berita
Arzeti Bilbina. FOTO: Istimewa
Dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang Penyelenggaraan Pemilu (RUU Pemilu), sempat muncul wacana pembatasan atau pengetatan syarat calon legislatif (caleg) yang berlatar belakang selebritis. Wacana ini digelontorkan oleh tim pakar pemerintah dalam penyusunan RUU Penyelenggaraan Pemilu, Dani Syarifudin Nawawi, pada Agustus 2016 lalu.

Usulan ini diutarakan Dani, karena ia melihat banyak Anggota DPR RI yang berprofesi sebagai selebritis tetap sibuk syuting iklan, film, atau memandu acara kuis.

Pekerjaan tersebut, menurut Dani, tidak terkait dengan kewajibannya sebagai wakil rakyat. Dani pun kemudian mempertanyakan: kapan seseorang anggota legislatif yang tetap sibuk bekerja sebagai selebritis menjalankan kewajibannya sebagai wakil rakyat?

Menurut Dani, Anggota DPR RI yang berprofesi sebagai selebritis berbuat demikian karena saat menjabat sebagai wakil rakyat, mereka tidak matang pendidikan politiknya.

Sehingga, menurut Dani, selebritis seharusnya tidak dengan mudah dapat menjadi calon legislatif. Ia mengusulkan, pada Pemilu 2019 mendatang, untuk bisa menjadi caleg, seseorang harus telah mengantongi Kartu Tanda Anggota (KTA) parpol tertentu, minimal selama satu tahun.

Usulan Dani mendapat protes keras dari beberapa Anggota DPR RI, baik yang berprofesi sebagai selebritis ataupun bukan. Usulan Dani dikritik karena dianggap membatasi hak warga negara, apa pun latar belakang profesinya, untuk dapat menjadi Anggota DPR RI.

Desy Ratnasari, Anggota Komisi VIII DPR RI, yang sebelum menjadi anggota legislatif terkenal sebagai pelantun lagu “Tenda Biru”, adalah salah satu yang geram dengan usulan ini. Ia mengatakan bahwa jangka waktu seseorang menjadi anggota partai politik tidak bisa menjadi indikator kualitas seseorang ketika menjadi wakil rakyat. 

Dalam pembahasan RUU Pemilu, usul yang digelontorkan Dani telah ditolak. Menurut Anggota Komisi II DPR RI, Achmad Baidowi, RUU Pemilu yang tengah dibahas saat ini tidak mengatur syarat minimal keanggotaan. Tetapi, akan diatur syarat pelatihan kepada seseorang yang mengajukan diri sebagai caleg.

Kendati telah ditetapkan demikian, isu mengenai layak-tidaknya seorang selebritis menjadi anggota dewan sekiranya tetap perlu untuk diperbincangkan. Mengingat, saat ini semakin banyak selebritis yang mengembangkan sayap terjun ke dunia politik.

Rilis.id berkesempatan berbincang mengenai polemik selebritis dalam parlemen dengan Arzeti Bilbina, Anggota Komisi VIII DPR RI. Sebelum menjadi anggota legislatif, ia sempat berprofesi sebagai model papan atas. 

Arzeti mengungkapkan keberatannya terhadap pihak-pihak yang sibuk menyoroti kinerja anggota dewan yang berprofesi sebagai selebritis. Padahal, menurutnya, banyak anggota dewan yang juga tidak berlatar belakang politisi ketika menjadi caleg, misalnya pengusaha atau budayawan. Berikut laporan wawancara selengkapnya:

Sempat ada usulan penambahan syarat, terutama bagi selebritis, yang mencalonkan diri sebagai caleg. Apakah menurut Anda hal itu diperlukan?

Hal-hal semacam itu hanya sekadar isu. Di pemilu itu tidak ada paten-paten seperti itu. Ya, buat aku sih jangan digemborkan. Jadi gini, seorang artis itu mencapai profesi dia, sehingga kemudian dia dikenal oleh masyarakat, kan nggak mudah. Butuh waktu, proses, dan modal yang besar. Seorang tokoh pun sama seperti itu. Seorang politisi pun seperti itu.

Jadi, kalau sekarang tiba-tiba seorang entertainer masuk ke politik, itu jangan dijadikan acuan dengan mengatakan bahwa seorang entertainer itu bisa apa.

Pertanyaannya dibalik, dong. Mereka famous, mereka dikenal, berarti mereka punya perjuangan. Mereka punya ilmu. Jadi, mereka sendiri saja bisa membentuk itu.

Politik adalah seni. Mereka itu sudah ada di dalam dunia itu. Dan orang-orang yang sudah famous di dalam dunia entertainment itu bukan setahun dua tahun. Aku misalnya, 24 tahun.

Jadi, jangan karena kecemburuan sosial atau karena apa kita nggak ngerti, ya. Tapi luruskan ini bahwa pekerja seni saja tidak pernah membicarakan pekerjaan profesional orang lain. Karena setiap profesi itu punya plus-minus, punya poin-poin tertentu yang jadi bahan jualan.

Artinya, kalau seorang pekerja seni masuk kemudian elektabilitasnya sudah di atas, ya mungkin itu suatu wujud bagaimana mereka sudah bekerja keras untuk mencapai itu. 

Menurut Anda, apakah Anggota DPR RI yang berlatar belakang pekerja seni menjalankan pekerjaannya dengan baik di parlemen?

Aku sih tidak bisa bicara itu ya. Tapi pada dasarnya, setiap orang punya tanggung jawab masing-masing. Jadi, kita tidak bisa menilai kinerja seseorang, tapi bagaimana orang lain yang melihat. Kalau buat aku, semua kembali lagi bukan hanya sebatas pekerja seni atau politisi atau tokoh agama atau budayawan. Tapi bagaimana dia bisa menjalankan amanah itu, bisa menjalankan tanggung jawab itu secara profesional.

Tetapi apakah Anda melihat mereka bekerja dengan baik?

Ya, kalau aku sih melihat mereka profesional. Tapi InsyaAllah, yang aku lihat, yang aku tahu, sama dengan politisi-politisi yang lain. Sama dengan profesional-profesional lain yang masuk ke ranah aspirator itu, sebagai legislatif.

Kita harus luruskan itu, semua orang yang ada di Senayan adalah sebagai pekerja pelayan masyarakat, di mana mereka ada di sana semua adalah niatnya begitu.

Jadi, background itu anggaplah sebagai kendaraan yang berbeda-beda. Istilah kasarnya tadi saya ke sini kebetulan naik mobil. Stafku naik motor. Ada lagi yang naik gojek. Tapi kan intinya semua mau di sini.

Jadi, jangan memikirkan profesional seseorang. Tapi, bagaimana keberadaan kita itu memang ditujukan untuk masyarakat.

Akan tetapi, mengingat banyak selebritis yang menjadi caleg tidak memiliki latar belakang politik, perlukah ada syarat khusus bagi mereka? 

Perlu, semua perlu. Tapi apa budayawan punya background politik? Pengusaha, punya? Tokoh masyarakat, punya? Itu saja dulu. Jadi, jangan disentralkan ke pekerja seninya saja. Coba tanya, memangnya mereka ada?

Saat Anda sendiri menjadi caleg, bagaimana prosesnya?

Pada saat itu, aku bicaranya gini, kalau aku tetap di dunia entertainment, keuntungannya hanya untuk personal. Dapat uang untuk personal, woro-woronya juga hanya sebatas itu. Tapi kalau sekarang, aku harus bisa mendapatkan, misalnya, ada di sini sekarang adalah sebagai bagian dorongan dari kepentingan masyarakat. Jadi, bukan bicara kepentingan personal lagi. 

Segala sesuatu aku melihatnya dari segi cakupan yang luas. Bukan lagi dari cakupan yang personal. Jadi intinya sekarang, kalau kita bicara mengenai nominal, waktu jadi pekerja seni kan simpel, duit buat kita sendiri. Tapi sekarang, bagaimana program pemerintah itu ada dan nyata untuk masyarakat. Tanggung jawabnya lebih besar.

Apakah Anda akan kembali mencalonkan diri di pemilu mendatang?

Aku fokus dulu dengan tanggung jawabku yang ada sekarang. Ke depannya aku serahkan pada Allah.

Kalau masyarakat mendukung, Anda maju?

Bismillah... Bismillah. Tergantung partai.

Apa pesan Anda untuk pekerja seni yang ingin jadi wakil rakyat?

Siapa pun, kita tidak bisa melihat dari profesinya saja. Tapi dilihat dari tanggung jawab dan panggilan. Kalau ada orang yang memang benar-benar fokus dan profesional sebagai pekerja seni, aku sangat mendukung itu. Tapi jika ada yang kemudian ingin masuk ke dunia lain, ya alhamdulillah. Keputusan itu semua ada di tangan kita masing-masing.

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Inspirasi

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari