​Keluh Kader PDIP karena Dikaitkan dengan PKI
berita
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza
RILIS.ID, Jakarta— Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) acap kali dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Sejumlah kader pun geram, sebagaimana dirasakan Nurfahmi Budi Prasetyo.

Tenaga Ahli Anggota Fraksi PDIP DPR RI ini mengaku, isu tersebut berimbas pada merosotnya tingkat keterpilihan partai banteng. Pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2017, misalnya. 

"Beberapa kandidat PDI Perjuangan 'digembosi' dengan isu hoaks dan SARA. Dan itu efektif 'melumpuhkan'," ujarnya di Jakarta, Rabu (14/2/2018).

Baca: PDIP Siap Tempuh Jalur Hukum bagi yang Sudutkan Partainya

Menurut Fahmi, tren serupa mulai terjadi. PDIP pun kembali menjadi salah satu sasaran. "Dari sosial media, arus informasi cepat menyebar hingga ke grup WhatsApp dan dibaca banyak kalangan, mulai dari Ibu-Ibu pengajian, majelis taklim, orang kantoran yang apolitis, dan sebagainya. Setelah itu, menjadi obrolan warung kopi yang begitu masif," jelasnya.

Karenanya, dia meminta praktik culas tersebut dihentikan. Alasannya, akan mencoreng kualitas demokrasi Tanah Air. Apalagi, imbuh Fahmi, "Hoaks cepat menyebar, karena masih rendahnya literasi dan minat baca bangsa kita. Baru baca judulnya tanpa mengklarifikasi, orang sudah menjustifikasi sebuah isu."

Jebolan Universitas Nasional (Unas) Jakarta ini kemudian menerangkan, PDIP tak mungkin "setali tiga uang" dengan PKI. Sebab, Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri merupakan muslimah. Ayahandanya selaku proklamator, pun belajar Islam dari HOS Tjokroaminoto yang merupakan guru beberapa pendiri bangsa.

"Soekarno muda banyak berkenalan dan dipengaruhi Pemikiran A Hassan, pendiri Persatuan Islam (Persis). Sekitar 85 persen pengurus PDI Perjuangan Muslim. Pemilihnya juga mayoritas Muslim," lanjutnya.

"Ada sayap partai Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) yang konsen untuk pemberdayaan umat. Kenapa dengan piciknya bisa menuding PDI Perjuangan itu PKI?" imbuh dia bertanya.

Dus, Fahmi kembali meminta pasukan dunia maya (buzzer) lawan politik PDIP "berperang" dengan fakta dan data. "Jangan hobinya membenturkan PDI Perjuangan dengan kelompok Islam, menuding antek PKI-lah, anti-Islam, anti-ulama, dan sebagainya," ketusnya.

Dia mengingatkan, jejak digital di dunia maya mudah ditelusuri apara berwajib, meski unggahan telah dihapus dan kartu nomor telepon genggam (SIM card) dibuang. "Orang di balik layar pemilik akun penebar fitnah dan hoaks pasti akan segera diciduk. Sudah banyak kasus kejahatan siber yang dituntut hukum," tuntas kolumnis Genta Suara Revolusi Indonesia (Gesuri.id), portal berita milik PDIP ini.

Editor:

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Nasional

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari