Antara Ibrahim, Siti Sarah, Siti Hajar dan Ismail, Tuhan Mencipta Cinta
berita
Syamsul Arief
Oleh: Syamsul Arief

~Penikmat Kopi Uncu~

Kemarin kita merayakan hari qurban. Hari dimana kita memungut hikmah peristiwa kesabaran Nabi Ibrahim dan keikhlasan Nabi Ismail. Tapi jangan lupa ada peristiwa lainnya yang tidak bisa dipisahkan yang harusnya kita  bisa petik hikmahnya. Ini tentang kesetiaan, cinta, cemburu dan ikhlasnya Siti Sarah, istri pertama Nabi Ibrahim. Ini juga tentang kesabaran dan keikhlasan dari sosok Siti Hajar ibu kandung dari Ismail yang merupakan Istri Kedua Nabi Ibrahim.

Siti Hajar Perempuan Mesir itu sesungguhnya adalah budak yang dihadiahkan Raja Fir'aun kepada Nabi Ibrahim dan  Siti Sarah. Lama keduanya berumah tangga tapi tidak memiliki keturunan sampai kemudian Siti Hajar dinikahi Ibrahim [tentu dengan restu Siti Sarah agar Ibrahim suami yang dicintainya memiliki keturunan]

Tapi cemburu adalah nama lain cinta. Tuhan ciptakan cinta penuh dengan keindahan tapi ikut tercipta didalam juga cemburu yang penuh ego [sumber kerusakan] agar kita belajar digelombang kesabaran dan keikhlasan. 

Meskipun Siti Sarah merestui suaminya menikahi Hajar namun setelah Ismail dilahirkan api cemburu menyala di hati Sarah. Menyayangi Ismail anak kandung suaminya tapi asap cemburu pada Hajar tetap ada. Maka agar asap itu tidak membara lalu Ibrahim memindahkan/memisahkan Hajar dan Ismail dari Sarah.

Tiba di lembah gersang Ismail yang masih bayi itu menangis kehausan lalu Siti Hajar berjuang sendiri diantara dua bukit dibawah terik matahari menyengat mencari sumber air. Berjalan dan berlari sambil menggendong Ismail yang menangis ibunda mencari sumber air sampai kemudian menemukannya. Peristiwa ini dikenang sebagai perayaan sifat-sifat keibuan [maka jangan pernah melawan ibu]. Berjalan dari Bukit Safa dan Marwa sebanyak Tujuh kali dalam  haji/umroh adalah ritual untuk mengenang cinta dan kesabaran seorang ibu yakni perjuangan Siti Hajar.

Kisah Ibrahim yang taat dan tunduk kepada Allah SWT untuk memenggal kepala anak yang dicintainya dan keikhlasan Ismail yang bersedia untuk menjadi "kurban" atas kecintaan pada ayah dan  ketaatan pada perintah Allah Swt adalah hikmah yang tidak bisa dipisahkan dari hikmah sikap-sifat Siti Hajar. Sebagai manusia saya tidak sanggup untuk sampai pada level ikhlasnya Hajar merelakan anaknya yang teramat dicintainya akan dikurbankan. 

Peristiwa itu juga tidak terpisah dari hikmah sikap-sifat manusiawinya Sarah yang memendam setia, cinta-cemburu dan kerelaan menjadi satu didalam dada yang lapang.  Di dada jiwa-jiwa mencari perkenan Tuhan. 

Sungguh Tuhan mengajarkan cinta dari hikmah peristiwa kemanusiaan yang mengandung kesabaran, keikhlasan dan cinta Ibrahim, Sarah, Hajar dan Ismail. 

Pada kesabaran, keiklasan dan cinta keempat manusia yang dikenang dalam kitab suci Alquran, Injil dan Taurat itu saya berhikmat... (*)


 


Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Inspirasi





Terkini



Dapatkan berita terkini setiap hari