Bahaya Politisi Level Cheerleaders
Mohammad Nasih
20 September 2018, 18:40 WIB
Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ. Guru Utama di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE
berita
ILUSTRASI: Hafiz
SEJATINYA, politisi merupakan manusia berderajat mulia. Sebab, politisi memiliki peran dan fungsi sangat penting dan sangat menentukan hijau hitam negara. Kualitas gagasan dan konsistensi kerja mereka merupakan penentu yang termasuk paling utama dalam pembangunan. 

Politisi yang memiliki pandangan luas dan menyeluruh, akan menghasilkan kebijakan-kebijakan politik yang benar-benar berwatak inklusif dan bervisi jangka panjang, tidak parsial dan bervisi jangka pendek. Pembangunan akan bisa dilakukan secara sambung-menyambung, tidak perlu mendekonstruksi yang sebelumnya telah ada. Mereka mampu menjaga yang sebelumnya ada dan baik, lalu terus melengkapinya agar menjadi terus lebih baik. 

Karena itu, diperlukan politisi yang benar-benar berkualitas, agar penyelenggaraan negara benar-benar memiliki arah yang jelas dan kerja-kerja yang terukur. Kualitas politisi yang demikian meliputi empat kemampuan, yaitu: berpikir ideologis, berwawasan politis, bertindak taktis, dan mampu melakukan hal teknis. Keempatnya, harus ada secara bersamaan, agar berbagai ide yang dimiliki bisa terimplementasi. Sebaliknya, kerja-kerja yang dilakukan tidak sembarang kerja, tetapi benar-benar memiliki landasan atau pijakan yang kuat dan kokoh.

Kemampuan berpikir ideologis atau filosofis diperlukan oleh politisi, karena setiap kebijakan politik memerlukan landasan dan kerangka berpikir yang jelas  kebenarannya. Karena itu, politisi haruslah juga seorang yang memiliki kebijakan tinggi. 

Para filsuf Yunani mengidealkan yang menjadi politisi adalah juga seorang filsuf. Kebijakan tertinggi hanya bisa dihasilkan dari ilmu, terutama yang bersumber dari ketetapan-ketetapan Tuhan. Negara yang diselenggarakan oleh penyelenggara negara yang mampu menangkap pesan-pesan substansial Tuhan, lalu mentransformasikannya ke dalam produk-produk kebijakan politik, akan mengarah kepada kebaikan bersama untuk selamanya. 

Sebaliknya, negara yang berada di tangan para penyelenggara negara yang hanya mengedepankan hasil pikiran sendiri, akan mengarahkan kepada perdebatan panjang yang membuang waktu, tenaga, dan biaya, karena terbuka kemungkinan untuk selalu kembali ke titik nol. 

Wawasan politis diperlukan, karena politik adalah sebuah medan untuk tidak hanya pertarungan ide, tetapi lebih dari itu harus juga mewujudkannya. Karena itu, diperlukan seni tingkat tinggi. Kebaikan yang tidak ditawarkan dengan cara yang baik, akan ditolak oleh bukan hanya yang tidak setuju kepada substansi ide yang ditawarkan, bahkan oleh yang menyetujuinya sekalipun. 

Wawasan politis ini akan memandu kepada jalan yang harus ditempuh, yang terkadang harus melingkar, dan bahkan kelihatan berlawanan, tetapi itulah yang akan mengantarkan kepada tujuan. Tanpanya, yang akan terjadi hanyalah kegagalan. Wawasan politis itu harus benar-benar diikuti dengan tindakan nyata di lapangan. Itulah kemampuan bertindak taktis. 

Wawasan tanpa tindakan, tidak akan menghasilkan apa pun. Kemampuan untuk bertindak secara cepat sangat diperlukan, karena politik adalah momentum. Jika perenungan terlalu panjang dan tidak menghasilkan tindakan cepat, tidak menutup kemungkinan momentumnya akan hilang. 

Sedangkan tindakan teknis diperlukan, karena seorang politisi sejatinya adalah juga teladan nyata. Gagasan, wawasan, dan tindakan taktis seringkali tidak bisa dipahami oleh kalangan awam. Karena itu, seorang politisi harus memberikan contoh-contoh yang bisa dilihat dengan mata telanjang, bukan sekadar visi yang hanya bisa ditangkap oleh pikiran. Sedangkan yang mampu menangkap visi adalah mereka yang berada di puncak piramida. Makin banyak politisi dengan empat kualitas itu, akselerasi pembangunan negara, baik yang nonfisik maupun fisik akan bisa diakselerasi.
 
Sebaliknya, kecelakaan besar apabila kualitas politisi setara dengan sekadar pemandu sorak (cheerleaders). Mereka hanya menjadi kelompok-kelompok yang membuat politik menjadi bising, tetapi tidak ada perdebatan bermutu yang menghasilkan dialektika yang merupakan proses pembangunan gagasan yang berkualitas tinggi. 

Tidak ada rasa malu menjilat ludah sendiri dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama dan alasan melakukannya sesungguhnya sangat tidak substansial, apalagi ada indikasi semata-mata karena imbalan jabatan yang berimplikasi kepada raihan finansial, bukan untuk menciptakan kebijakan yang baik atau lebih baik. 

Politik bagi mereka hanyalah menang kalah dalam perebutan kekuasaan, bukan hendak mentransformasikan nilai-nilai yang diyakini bisa mengarahkan kepada kebenaran yang pasti akan mengantarkan kepada kebaikan bersama.
 
Keberadaan orang-orang yang demikian, akan membuat lebih banyak rakyat menjadi tidak peduli kepada politik. Karena itu, para aktivis yang belum terjun berpolitik harus mempersiapkan diri menjadi politisi yang baik. Dan mereka harus mampu menunjukkan seni meraih, mempertahankan, dan memperbesar kekuasaan dengan cara-cara yang waras dan berkualitas. 
Perbedaan politisi yang baik dengan yang “Machiavelian” adalah kemampuan untuk meraih kekuasaan dengan cara yang benar. Hanya dengan cara mencapai kekuasaan dengan benar, akan bisa dibuat kebijakan-kebijakan politik yang benar dan berpihak kepada rakyat banyak. 

Jika kekuasaan dicapai dengan cara-cara yang tidak benar, maka dalam masa selanjutnya para politisi akan menghadapi kendala berupa berbagai skandal yang harus ditutupi. Jika itu yang terjadi, maka masa depan negara akan terus berada dalam lorong panjang yang kegelapannya kian pekat. Wallahu a’lam bi al-shawab.  

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top KOLOM

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari