Balitbangtan Dukung Pertanian Modern di Kota Bogor
berita
FOTO: Humas Balitbangtan
RILIS.ID, Jakarta— Kota Bogor Mulai Terapkan Pertanian Modern

Untuk memajukan pertanian di perkotaan, Pemerintah Kota Bogor berharap dapat menerapkan sistem pertanian modern yaitu penggunaan varietas unggul hasil bioteknologi, didukung mekanisasi pertanian dan teknologi lainnya.

Harapan tersebut mulai terwujud saat panen padi varietas unggul hasil bioteknologi marker assisted breeding (MAB) yang  dihadiri Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Robert Hasibuan pada acara Temu Lapang dan Panen Inpari 40 Agritan di Kelurahan Katulampa, Bogor Timur, Kota Bogor.

“Karena keberadaan lahan di Kota Bogor ini sempit, tenaga kerja yang sedikit dan mahal, membuat peran teknologi di sini sangat dominan,” ujar Robert pada Rabu (17/10/2018).

“Jadi yang kita harapkan di sini adalah pertanian modern seperti menggarap lahan menggunakan mesin traktor, menanan dengan mesin penanam padi atau rice transplanter, panen menggunakan mesin pemanen combine harvester, hingga menggunakan varietas unggul padi,” tambahnya.

Temu Lapang dan Panen Inpari 40 Agritan merupakan salah satu bentuk kerja sama antara Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) dengan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Jawa Barat dan Pemerintah Kota Bogor dalam mengembangkan pertanian.

Kepala Unit Pengelola Benih Sumber BB Biogen Balitbangtan, Dodin Koswanudin mengatakan, yang menjadi target utama dari kerja sama ini adalah meningkatnya pendapatan petani dengan cara memproduksi benih, karena nilai jual benih lebih tinggi dibandingkan harga padi konsumsi.

“Dengan adanya pengawasan dari BPSB, diharapkan petani yang awalnya hanya menjual hasil panen padi untuk konsumsi, bisa beralih menjual benih sehingga pendapatan petani meningkat,” ujar Dodin.

“Balitbangtan dalam hal ini BB Biogen akan mendukung dalam hal penangkaran benih khususnya benih Inpari 40 agar dapat disuplai ke daerah-daerah lain,” tambah Dodin.

Inpari 40 sendiri merupakan salah satu varietas unggul baru yang dirakit oleh Balitbangtan melalui bioteknologi (MAB). Padi ini merupakan padi tadah hujan yang dapat tumbuh di daerah yang memiliki irigasi buruk atau kekurangan air. Selain itu potensi hasil Inpari 40 mencapai 9,6 per hektare.

Upaya pengembangan Inpari ini disambut baik oleh petani. Salah satunya Salim Abdullah yang merupakan ketua kelompok tani Bangun Tani Hias, Keurahan Katulampa, Bogor. Namun Salim menyebutkan bahwa saat ini petani memiliki tantangan baru dalam mengolah sawah, yakni tercemarnya air irigasi dengan limbah rumah tangga seperti deterjen.

“Selain air irigasi yang telah terkontaminasi, tantangan terberat petani adalah cuaca. Cuaca yang tidak menentu menyebabkan bulir padinya menguning dan lama kelamaan berubah jadi coklat. Tapi yang saya lihat, padi Inpari 40 ini 
lebih tahan terhadap cuaca yang tidak menentu tersebut,” ungkap Salim.

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Bogor, lahan pertanian yang tersisa di Kota Bogor sebesar 320 hektare.

Dari luasan tersebut, sekitar 150 hektare merupakan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) yang akan dikembangkan untuk memajukan pertanian di Kota Bogor.

Sumber: Andika Bakti

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Bisnis

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari