Di Klaten, HNW Cerita Asal Penyebutan Sosialisasi Empat Pilar MPR
berita
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid saat Sosialisasi Empat Pilar MPR dihadapan masyarakat desa Basin Kecamatan Kebonarum, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (7/9/2019) malam.
RILIS.ID, Klaten— Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, membuka Pagelaran Wayang kulit dalam rangka sosialisasi Empat Pilar MPR dihadapan masyarakat Desa Cekungan Kecamatan Kebonarum, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (7/9/2019) malam. 

Prosesi pembukaan pegelaran Wayang Kulit, itu ditandai penyerahan tokoh Semar, oleh Wakil Ketua MPR kepada Dalang Ki Jatmiko Anom Saputro. 

Turut hadir pada acara tersebut, anggota MPR Fraksi PKS Abdul Kharis Almasyhari, Kepala Bagian Akomodasi dan Angkutan Sesjen MPR Drs. Purwadi, Kepala Dinas Kominfo dan Plt. Kabag Kesra Kabupaten Klaten H. Amin Mustofa, juga camat kecamatan Kebonarum Sutopo dan Kepala Desa Basin H. Mustafa Kamal. 

Pementasan Wayang Kulit ini merupakan kolaborasi MPR dengan Masyarakat Desa Basin. Pagelaran ini mengetengahkan lakon Semar Mbangun Jiwa. Namun, ini dipilih karena sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, khususnya pasal 31. 

Dalam sambutannya, Wakil Ketua MPR mengingatkan penyebutan istilah Empat Pilar MPR RI. Itu dilakukan karena sebelumnya terjadi kesalahan penyebutan istilah sosialisasi, baik oleh pembawa acara, maupun tokoh masyarakat yang menyampaikan sambutan pada acara tersebut. 

Dulu, kata Hidayat saat pertama disosialisasikan pada 2005, kegiatan yang memakai istilah sosialisasi Empat Pilar berbangsa dan bernegara. Di tengah jalan penggunaan istilah ini dikeluarkan oleh Mahkamah Konstitusi. 

Kemudian Majelis Permusyawaratan Rakyat mengubah istilah tersebut menjadi Sosialisasi Empat Pilar MPR. Pancasila sebagai dasar dan ideologi bangsa, UUD NRI Tahun 1945 sebagai Konstitusi Negara, NKRI sebagai bentuk negara dan Bhinneka Tunggal Ika semboyan negara.

"Itu istilah yang benar, dan diizinkan oleh MK, jadi digunakan sampai sekarang," katanya.

Wayang Kulit dibeli sebagai salah satu metode sosialisasi, kata Hidayat karena kesenian, ini memiliki tempat khusus di hati masyarakat, khusus dipulau Jawa. Dengan begitu diharapkan, materi sosialisasi yang diselipkan di tengah pementasan wayang dapat dicerna dan diterima masyarakat luas. Apalagi, saat ini wayang harus diterima sebagai seni tradisional bangsa Indonesia yang harus diterima di tengah peradaban dunia.

"Yang lupa, Pancasila bukan hanya dihafal. Hafal sila-sila Pancasila, itu baik. Tapi lebih baik lagi jika dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari," kata Hidayat menambahkan. 

Sebelumnya, Kepala Bagian Akomodasi dan Angkutan Sesjen MPR Purwadi, mewakili Kepala Biro Humas MPR dalam sambutannya mengatakan, Sosialisasi empat Pilar dilakukan sejak 2005. Namun, penggunaan wayang kulit sebagai salah satu metode sosialisasi baru dilakukan pada 2012.

"Tujuannya agar materi sosialisasi lebih gampang diterima dan dicerna oleh masyarakat umum. Kemudian bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," kata Hidayat menambahkan.


Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top MPR Corner



Terkini



Dapatkan berita terkini setiap hari