Fahri Hamzah: Jokowi Sejak Awal Pemerintahan Sudah Persiapkan Pilpres 2019
berita
Fahri Hamzah. FOTO: RILIS.ID/Zulhamdi Yahmin
RILIS.ID, Jakarta— Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah, mengkritik pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla yang tidak menepati janji-janjinya pada masa kampanye Pilpres 2014. 

Menurut Fahri, Jokowi sejak awal menjabat sebagai Presiden RI sudah mempersiapkan diri untuk terpilih kembalu pada periode keduanya di Pilpres 2019. 

"Jadi nuansa rapat, program dan lain-lain itu untuk terpilih kembali. Jadi tidak ada upaya membangun fondasi dan janji-janji waktu kampanye 2014," kata Fahri saat menjadi pembicara dalam diskusi Topic of The Week, Adios Jokowi? di kantor Seknas Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta, Rabu (9/1/2019).


Mantan politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menilai, sejak awal roh pemerintahan Jokowi adalah untuk terpilih kembali di 2019. Sehingga, menurutnya, mantan Gubernur DKI Jakarta itu memang tidak memiliki komitmen untuk menuntaskan janji-janjinya. 

"Karena roh dari pemerintahan ini untuk terpilih kembali, maka komitmen jadi tidak penting. Yang penting bisa terpilih kembali," ujarnya. 

Sementara itu, dosen Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI), Chusnul Mariyah, membeberkan sejumlah permasalahan yang ada di Indonesia selama pemerintahan Jokowi. Salah satunya, terkait angka pengangguran di Indonesia yang semakin tinggi. 

"Kita bernegara ini dalam rangka menyejahterakan rakyat. Rakyat mana? Kalau kita bicara tentang angka, data pengangguran anak muda Indonesia paling besar se-Asean," ungkap Chusnul. 

Chusnul juga menyoroti terkait 72 persen tanah yang dikuasai 1 persen penduduk Indonesia.

"Bicara relokasi penggusuran, argumennya oh ini tanah milik negara. Terus negara milik siapa? Kenapa kalau dibangun superblok enggak papa? Kok enggak dibuat saja untuk rakyat miskin Jakarta yang tergusur?" tanya dia. 

Dia juga mengkritik kondisi pendidikan, kesehatan dan lapangan pekerjaan di Indonesia. Ditambah lagi, lanjut dia, dengan wacana kebangsaan yang belakangan ini terus menyeruak. 

"Sejak kapan kita bicara saya Indonesia saya Pancasila, saya Indonesia saya bhinneka tunggal ika, terus kalau saya mengritik presiden yang katakan saya Indonesia saya Pancasila, berarti saya tidak pancasila dong," celetuknya. 

Dia menegaskan, bangsa Indonesia dibangun oleh semua unsur dan dari berbagai tokoh masyarakat. Sehingga, tidak boleh ada yang mengklaim bahwa hanya kelompoknya yang tidak paling nasionalis dan Pancadilais. 

"Ini persoalnnya tidak ada leadership kepemipinan. Di situ kita butuh pergantian kepemimpinan. Konstitusi amanatkan pergantian kekuasaan," tandasnya. 

Selain Fahri dan Chusnul, diskusi yang digelar setiap pekan itu juga dihadiri oleh pengamat politik Rocky Gerung.


Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Elektoral



Terkini



Dapatkan berita terkini setiap hari