Filsafat, Akal Sehat dan Akal Bulus
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID
Oleh: Dr. Mohammad Nasih

Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ; Guru Utama di Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an MONASH INSTITUTE, Semarang.

TERMASUK karunia yang terbesar dari Allah kepada umat manusia adalah akal. Dengan akal manusia dapat berpikir. Kemampuan inilah yang membedakan manusia dengan binatang. Dari firman inilah manusia mendapatkan petunjuk. Bahkan, dengan akal, manusia dengan derajat tinggi bisa menangkap firman. Karena itulah, manusia yang menerima dan menjadikan firman sebagai panduan hidup disebut sebagai manusia berlogika. Sedangkan manusia yang tidak menggunakannya sesungguhnya bagaikan binatang, bahkan lebih sesat (ka al-an’âm bal hum adlall). Atau dengan ungkapan yang sebaliknya, manusia disebut sebagai hewan yang berlogika (al-insân hayawânun nâthiqun). Desacrtes berpandangan bahwa keberadaan manusia diukur dari kemampuannya berpikir; cogito ergo sum, katanya.

Jika dirunut sejarahnya secara radikal, logika berasal dari kata dalam bahasa Yunani logos, berarti firman. Firman itulah ilmu yang hakiki, karena firman berisi tentang ajaran Allah Yang Maha Mengetahui. Allah memberikan sedikit ilmuNya kepada manusia, agar manusia sesuai dengan kehendak Allah, mulai dari pikiran, bukan hanya perbuatan dengan dugaan-dugaan sendiri (al-dhann). Perbuatan yang sesungguhnya baik, tetapi hanya didasarkan kepada dugaan saja, tidak didasarkan pikiran yang benar, bukan pula dilandasi niat karena Allah, maka dianggap sekedar fatamorgana di tanah datar; orang yang haus melihat seolah-olah ada air di situ, tetapi sesungguhnya tidak ada apa-apa sama sekali. Perbuatan yang baik dianggap sama dengan tidak beramal sama sekali, sehingga yang terjadi adalah kerugian besar.

Manusia yang bisa menangkap bahwa firman Allah itulah ilmu yang sejati merupakan manusia yang bijaksana. Dalam bahasa Yunani, orang yang demikian disebut dengan filsuf (philo dan sofia), berarti orang yang cinta kepada kebijaksanaan. Dengan modal ilmu, seseorang yang benar-benar menjalankannya bisa sampai kepada kebijaksanaan. Mereka melaksanakan pengetahuan mereka untuk diri sendiri dan juga menyampaikannya kepada orang lain, agar orang-orang yang belum berpikir sesuai dengan firman Allah berubah menjadi mengikuti kebenaran.

Namun, tidak mudah mengajak orang-orang yang tidak memiliki kedalaman pikir kepada kebenaran. Kendala paling umum adalah pandangan mereka terbatas oleh hal-hal yang bersifat fisikal, sehingga tidak bisa menangkap realitas di baliknya yang luas dan panjang. Sama beratnya dengan mengajak orang-orang dengan fanatisme yang berlebihan. Fanatisme buta bisa menyebabkan kebenaran yang sesungguhnya telah diketahui, tidak bisa diterima, karena pertimbangan untung rugi duniawi. Karena itulah, mereka tidak hanya menolak apa yang disampaikan oleh orang-orang bijak dan bahkan para rasul sebagai penerima kebijaksanaan (hikmah) yang kebenaran mereka ditopang dengan mu’jizat. Bahkan banyak di antara orang bijak dan rasul tersebut mereka bunuh dengan cara yang sangat mengerikan. Socrates dibunuh dengan cara harus meminum racun. Dalam al-Qur’an ditegaskan bahwa tidak sedikit nabi yang dibunuh oleh Bani Israel, karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah disebabkan hanya mau mengikuti hawa nafsu mereka sendiri.

Dari sejarah tersebut, nampak bahwa permusuhan kepada para pembawa kebenaran adalah masalah yang sudah berusia tua. Pada zaman Yunani kuno, orang-orang yang menolak kebenaran ini juga telah muncul. Dalam sejarah filsafat, mereka disebut para sofis. Mereka bukanlah orang-orang yang tidak tahu tentang filsafat untuk memahami kebenaran. Mereka menjadikan kemampuan berfilsafat hanya untuk bersilat lidah dan memutarbalikkan kebenaran dan kekeliruan.  Akal mereka yang menurut Ibnu Sina sesungguhnya sudah sampai pada level akal fa’al justru terjerumus dan karena itu menjadi akal bulus yang sering digunakan sebagai sarana untuk membohongi banyak orang.

Argumentasi kaum sofis sesungguhnya sangat kelihatan dari kerangka berpikir yang rancu. Namun, mereka berusaha untuk menunjukkan bahwa merekalah yang benar, di antaranya dengan mengumpulkan para sofis agar seolah pandangan mereka menjadi kebenaran yang sejati karena didukung oleh banyak orang yang kelihatan intelek. Padahal kebenaran tidak ditentukan sama sekali oleh jumlah yang setuju. Bumi bulat atau datar sama sekali tidak ditentukan oleh seberapa jumlah orang yang mendukung pandangan itu.

Pada urusan-urusan yang hanya berlaku kebenaran tunggal, para sofis juga terbiasa membuat manipulasi argumentasi, sehingga seolah-olah kebenaran bisa didapatkan di banyak pihak. Dengan argumentasi yang lahir dari akal bulus itu, relativisme hidup dan orang-orang yang sesungguhnya salah, bisa nampak berada pada posisi yang benar. Kebenaran tunggal pun berusaha disulap agar menjadi plural. Akhirnya, dengan memutarbalikkan kebenaran dan kekeliruan atau mencampuradukkan keduanya itu mereka mendapatkan keuntungan meterial karena ada orang-orang yang memiliki kepentingan membutuhkan jasa mereka dengan ilmbalan uang. Wallahu a’lam bi al-shawab.   

 

Editor: Sukma Alam


Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Inspirasi





Terkini



Dapatkan berita terkini setiap hari