Harga Kopra Anjlok, Senator Malut Teriak Kartel Bermain
berita
Harga kopra membuat sejumlah petani kelapa di Provinsi Maluku Utara. FOTO: Istimewa
RILIS.ID, Jakarta— Anjloknya harga kopra membuat sejumlah petani kelapa di Provinsi Maluku Utara mulai menjerit karena produksi banyak, namun harga di pasaran turun drastis menjadi Rp3.500 per kilogram pada tingkat pengumpul kabupaten.

"Padahal, enam bulan lalu harga komoditas tersebut sempat menyentuh harga Rp12.000 meski bertahan di kisaran Rp10.000 per kilogram," ujar anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPD) Matheus Stefi Pasamanjeku kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (6/12/2018).

Stefi meminta pemerintah memberikan perhatian serius guna menjaga stabilitas harga kopra di Maluku Utara agar pendapatan petani penghasil produk komoditas itu tidak kian terpuruk.

Sebelumnya Stefi melakukan kunjungan kerja ke sejumlah kabupaten di Provinsi Maluku Utara sebagai provinsi penghasil utama kopra di Indonesia. Menurutnya, lebih dari 90 persen petani di provinsi daerah pemilihannya itu merupakan petani kopra.

Stefi mengatakan selain harga komoditas itu lesu di pasar internasional akibat berbagai isu, anjloknya harga kopra juga tidak terlepas dari praktik kartel yang selama ini berlangsung. Menurutnya, kalau praktik kartel tersebut tidak ditindak maka disparitas harga di tingkat petani dan di tingkat user akan semakin tinggi.

“Kami meminta pemerintah pusat untuk ikut mencari solusi sekaligus melakukan intervensi harga kopra, sehingga dapat membantu petani kelapa meningkatkan kehidupan ekonomi mereka,” ujarnya.

Meski tidak menyebutkan angka pasti, namun stefi mengatakan kalau kondisi tersebut dibiarkan maka potensi kerugian petani mencapai puluhan miliar per bulan. 

Dia mengatakan bahwa kalau harga komoditas tersebut berada di bawah Rp5.000 per kilogram maka petani akan merugi karena tidak bisa menutupi biaya produksi dan ongkos transportasi. Akibat kondisi tersebut, kelangsungan pendidikan anak-anak petani setempat juga terancam

Sebelumya, Badan Pusat Statistik (BPS) Malut menyatakan Nilai Tukar Petani di provinsi tersebut alami penurunan drastis dari Oktober sebesar 97,99 pada November menjadi 1,37 persen akibat penurunan harga kopra.

"Bahkan, pada November 2018 Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 96,65 atau mengalami penurunan 1,37 persen bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya pada Oktober 2018 yang tercatat sebesar 97,99," kata Kepala BPS Maluku Utara (Malut), Misfahrudin seperti disitat Antara.

Dia mengatakan, salah satu penyebab nilai tukar petani melemah adalah karena turunnya harga komoditas kopra.

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Bisnis

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari