Industri 4.0 Tingkatkan Efisiensi dan Produktivitas Pertanian
berita
FOTO: Humas Balitbangtan
RILIS.ID, Jakarta— Staf Ahli Menteri Bidang Infrastruktur Pertanian Prof. Dedi Nursyamsi mengatakan, industri 4.0 dapat meningkatkan efisiensi faktor produksi dan produktivitas pertanian, sehingga dapat meningkatkan daya saing dan ekspor komoditas pertanian.

Menurutnya, sektor pertanian sudah memasuki industri 4.0 dengan mengimplementasikan smart agriculture, seperti smart green house, smart irrigation, autonomous tractor dan lain-lain.  Smart agriculture telah memanfaatkan internet of things, artificial intelligence, dan teknologi informasi dan komunikasi dalam meningkatkan produksi pertanian.

Pada berbagai kesempatan, Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman mengatakan, ke depan pengolahan tanah, proses penanaman, panen hingga pengolahan hasil harus menggunakan mesin otomatis yang terintegrasi dengan jaringan internet. Sehingga pekerjaan tersebut dapat dikendalikan dari rumah dengan menggunakan remote control.  


Di kesempatan roundtable discussion tersebut di atas, Kepala BPPT Dr Hammam Riza mengapresiasi Kementan yang telah mendorong tumbuhnya petani milenial untuk mendongkrak produksi pertanian. Hal ini diamini oleh CTO MNC Group & COO MNC Innovation Center Yudi Hamka, S.S., MBA yang mengatakan, milenial umumnya melek teknologi informasi dan komunikasi dan bila dibimbing dengan baik maka mereka pasti mampu bersaing dengan dunia internasional.

Perkembangan industri 4.0 menghadirkan berbagai tantangan baru yang harus siap dihadapi oleh dunia industri. Hal ini tidak perlu ditakutkan, akan tetapi perlu diantisipasi dan direspons secara memadai. Fenomena ini justru memunculkan peluang-peluang yang harus kita manfaatkan sebaik-baiknya.

Lebih lanjut Hammam  mengatakan bahwa saat ini dunia dengan dipelopori Jepang memasuki era society 5.0, yaitu era dimana konsep masyarakat berpusat pada manusia (human centered) dan berbasis teknologi (technology based).  Apabila suatu masyarakat memanfaatkan industri 4.0 untuk keperluan hidup artinya mereka sudah memasuki era society 5.0 kata Hammam menambahkan.

 Roundtable discussion yang membahas soal infrastruktur, revolusi industri 4.0, dan era society 5.0 ini menghadirkan narasumber dari Kementan, Kemenperin, Kemenhub, Kemenristekdikti, Kemen PUPR, BPPT, POLRI, BUMN, Walikota Makassar, dan para pelaku industri.

Sumber: Agung Setyo/Kementan/Balitbangtan


Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Bisnis



Terkini



Dapatkan berita terkini setiap hari