berita
Bukan hal mengejutkan jika nama Airlangga Hartarto masuk dalam bursa 15 tokoh potensial dalam Pilpres 2024 oleh LSI Denny JA. Sebagai ketua umum partai papan atas dan nayaka di kabinet Jokowi, siapapun akan diperhitungkan dalam suksesi 2024. Pertanyaannya, mampukan ia menggelar karpet merah yang ada ditangannya itu?

Masih banyak undakan yang harus ditempuh Airlangga untuk masuk dalam bursa kepemimpinan nasional. Tentu yang terdekat ia harus kembali memenangkan pertarungan ketua umum Partai Golkar yang akan digelar Desember mendatang. Sejauh ini penantang yang sudah muncul kepermukaan adalah Ketua DPR Bambang Soesatyo. Bamsoet, sapaan akrabnya, bukanlah lawan tanding sembarangan. Karir politik dan bisnis yang ia rintis dari bawah menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang ulet dan jitu. Apalagi pengalamannya sebagai wartawan, membuatnya cukup tangkas dalam membangun jejaring. Di “medan” inilah Airlangga perlu berhati-hati.

Sebab, sekalipun bukan orang baru di Golkar, Airlangga dikenal sebagai teknokrat ketimbang “orang partai”. Apalagi tahun-tahun terakhir tugasnya sebagai pembantu presiden, membuatnya tak cukup luang untuk berkecimpung di lapangan jejaring. Padahal kita tahu, dalam perebutan ketua umum partai, faktor “pergaulan” bisa menjadi kunci penentu. Meskipun sejauh ini, Airlangga masih beberapa langkah lebih maju dibanding penantangnya.  

Sebagai incumbent yang tampaknya direstui oleh Jokowi, Airlangga punya kartu truf yang memudahkannya menjaring pendukung. Karena sudah jamaknya orang partai untuk tidak mau terlalu jauh dari kekuasaan. Selain itu citra diri Airlangga yang dikenal sebagai orang profesional yang bersih, adalah warna baru bagi partai yang membuatnya mudah untuk disukai. Apalagi, tidak ada isu yang cukup krusial untuk men-downgrade kepemimpinannya di partai.

Jika Airlangga berhasil mempertahankan posisinya pada Munas Golkar mendatang, tentu akan menjadi suplemen bagi partai untuk menggeliat menuju 2024. Karena partai yang punya kandidat Capres-lah yang bisa konfiden untuk aktraktif. Pertanyaan selanjutnya, cukupkah figur Airlangga untuk digadang-gadang?

Politik di masa populisme ini, kita tahu, seseorang butuh momentum untuk bisa meraih dukungan luas. Dan di ruang manakah Airlangga harus menciptakan momentum itu?

Pertanyaan yang sulit untuk dijawab meskipun mungkin untuk diurai konstruksinya.

Airlangga suka tidak suka harus keluar dari keheningan teknokrat, habitatnya selama ini. Sytlenya di depan publik cenderung kalem, tertata, dan jauh dari spontanitas.

Sebagai penjabat publik ia juga jauh dari kontroversi. Padahal untuk mencapai popularitas, seseorang butuh untuk memasuki “ruang ramai” itu. 

Sulit untuk membayangkan Airlangga tampil menggebrak dan menggedor, tapi ia harus menciptakan ruang perbincangan publik bagi dirinya. Bila perlu ia harus tampil simbolik untuk membangun karakter politiknya. Bukan hal yang mudah, sebab Golkar juga tidak dikenal sebagai partai “ekstrem” kanan atau kiri.

Mungkin saja Airlangga menciptakan “positioning”nya sebagai pemimpin millenial yang multikultur, meskipun itu juga harus dibangun oleh seperangkat simbolisme yang kuat untuk membangun citra itu. apalagi banyak kompetitornya yang berpeluang mengambil posisi itu dari sisi penampilan maupun usia. Kita tidak tahu citra semacam apa yang akan dibangun oleh Airlangga, tapi yang pasti, untuk tampil sebagai calon pemimpin nasional, ia harus keluar dari dunia hening seorang teknokrat.

(Khairul Anom)

 


Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Inspirasi





Terkini



Dapatkan berita terkini setiap hari