Kemendag dan Kementan Laporkan Kebutuhan Indonesia untuk Investasi Dalam Negeri
berita
FOTO: Humas Balitbangtan
RILIS.ID, Jakarta— Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian telah menyiapkan teknologi pendukung untuk peningkatan produksi kelapa diantaranya varietas kelapa genjah, varietas Kelapa Dalam Dan Kelapa Hibrida selain juga dukungan dalam teknologi Sistem informasi peta lahan dalam I-Map SDLP juga kultur jaringan Kelapa, demikian ungkap Dr. Jelfina C. Allouw pada The 55th International Coconut Community (ICC) Session and Ministerial Meeting Di Manila, Philippines.

Dalam sesi Country Report, Dr. Jelfina C. Alouw melaporkan salah satunya tentang Kelapa Cungap Merah yang baru saja dirilis pada bulan April 2019 berasal dari Banten, merupakan salah satu potensi varietas yang perlu dikembangkan. Kelapa Cungap Merah dikenal memiliki kadar antioksidan yang tinggi dan berguna untuk kesehatan.

"Aneka varietas kelapa ini menambah keragaman varietas kelapa yang sudah ada sekitar 100 aksesi SDG Kelapa dan 58 aksesi diantaranya sudah dilepas," ungkap Jelfina di Jakarta, Kamis (29/8/2019).

Kebijakan Pemerintah yang mendukung pengembangan produk kelapa di antaranya untuk replanting perbenihan kelapa dalam program BUN500 yang tidak hanya untuk tanaman kelapa, tetapi juga kakao dan kopi. Untuk kelapa termasuk didalamnya dengan membangun perbenihan kelapa modern di semua provinsi di Indonesia.

Kelapa di Indonesia tersebar di beberapa provinsi, namun konsentrasi produksi utamanya ada di Riau, Sulawesi Utara dan Jawa Timur. Industri kelapa yang besar pun sampai saat ini masih sedikit, ada sekitar 37 perusahaan, itupun baru industri besarnya saja lanjut Jelfina.

"Oleh karenanya, peluang investasi untuk produk kelapa terbuka lebar," ujarnya.

Wakil Bupati Meranti, Provinsi Riau: Drs. H. Said Hasyim  sebagai wakil dari Koalisi Penghasil Kelapa (KOPEK) menghadiri The 55th ICC meeting menyatakan bahwa Meranti memiliki Produktivitas kelapa sekitar 27 ribu ton dari 31ribu hektare lahannya. Produksi ini mendukung Provinsi Riau sebagai Produsen kelapa tertinggi yang dieksport ke Malaysia sebagai kelapa bulat.

"Ke depan harus diubah ke Industri Kelapa dalam upaya meningkatkan ekonomi masyarakat," ungkap Said Hasyim menambahkan.

Pertemuan ke-55 ICC kali ini juga menjadi ajang pemilihan Direktur Eksekutif ICC. Uron N. Salum, Direktur Eksekutif ICC  akan berakhir masa jabatannya di 2020.

"Pemilihan kali ini sangat penting dan bersejarah bagi sektor kelapa Indonesia karena calon Indonesia, Dr. Jelfina C. Alouw terpilih menjadi Direktur Eksekutif ICC mengalahkan calon Filipina dengan suara 15 lawan 2. Ini merupakan kali pertama wakil Indonesia menjadi Direktur Eksekutif ICC setelah organisasi tersebut berdiri selama 50 tahun dan berkantor di Jakarta", ungkap Antonius Yudi Triantoro, Direktur Perundingan APEC dan Organisasi Internasional Kementerian Perdagangan, yang memimpin delegasi Indonesia pada pertemuan itu.

Tidak hanya itu, terpilihnya Dr. Jelfina Alouw juga bersejarah bagi ICC sebagai Direktur Eksekutif perempuan pertama.


Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Bisnis



Terkini



Dapatkan berita terkini setiap hari