Masalah Dasar Pendidikan Dasar
Mohammad Nasih
24 Juli 2019, 11:01 WIB
Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ. Guru Utama di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE
berita
Dr. Mohammad Nasih. ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza
Setelah belasan tahun mengajar di perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, berbasis Islam maupun tidak, saya mulai menyadari bahwa ada masalah yang sangat fundamental dalam sistem pendidikan di Indonesia. Masalah itulah yang membuat negara ini mengalami ketertinggalan dari negara-negara lain. Lembaga pendidikan merupakan rahim yang diharapkan melahirkan SDM berkualitas. Namun, SDM Indonesia secara umum kalah oleh yang lain dalam persaingan global. Di antara implikasi seriusnya adalah negara ini mengalami keterjajahan, tanpa sadar. SDA-nya diangkut ke negara lain, tidak sedikit SDM-nya juga jadi kuli di luar negeri, bahkan dijadikan kuli di negeri sendiri oleh bangsa lain, dan ironisnya kemudian negeri ini dijadikan sebagai pasar bagi produk jadi dari luar negeri yang bahan mentahnya dari negeri ini. Sebuah rangkaian kejadian yang sekilas tidak logis, tetapi begitulah kenyataannya, dan tentu sangatlah ironis.  

Lalu siapakah sesungguhnya yang bertanggung jawab atas kualitas anak bangsa ini? Bahwa keluarga di Indonesia secara umum tidak bisa diandalkan untuk menjadi lembaga yang memberikan pendidikan yang memadai kepada anak-anak yang lahir, tumbuh, dan berkembang di dalamnya, itu disadari dengan baik oleh para pendiri negara. Karena itulah, oleh mereka, tugas mencerdaskan kehidupan bangsa dibebankan kepada negara dengan dinyatakan secara tegas dalam pembukaan konstitusi negara. Itu berarti bahwa negara harus menyediakan sarana dan prasarana pendidikan, agar anak-anak bangsa bisa tumbuh dan berkembang dengan optimal untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang bisa tidak hanya menopang kehidupan mereka menjadi lebih baik dan layak, tetapi lebih dari itu bisa berkontribusi optimal pula untuk membangun negara. SDA yang sangat melimpah, baik di dalam perut bumi dan juga permukaanya, jika dikelola oleh SDM yang berkualitas, bisa dipastikan akan menjadi modal sangat signifikan untuk melakukan akselerasi kemajuan negara, mengejar ketertinggalan yang sebelumnya terjadi, bahkan bisa melampaui yang lainnya dan kemudian berada di depan.

Saat ini, masalah dasar pendidikan bisa dikatakan terjadi di segala level, baik level dasar, menengah, maupun tinggi. Adapun di antara masalah dasar pendidikan dasar di Indonesia saat ini adalah:

Pertama, kualitas guru dan jumlah yang jauh dari cukup. Guru merupakan subjek pendidikan yang paling utama. Kemampuan asuh, asih, dan asahnyalah yang akan membuat para peserta didik mendapatkan panduan tentang arah hidup, kepercayaan untuk menjalani panduan, ketajaman nalar untuk melihat fenomena, dan juga keterampilan hidup untuk menghadapi masa depan. Karena itu, diperlukan SDM terbaik untuk bisa melakukannya. Tidak bisa, hal yang sangat besar itu diserahkan kepada SDM berkualitas ala kadarnya yang mengajar bahkan karena tidak ada hal lain yang bisa dikerjakan. Kompetensi tinggi guru diperlukan untuk memberikan contoh konkret kepada para peserta didik agar menjadi insan-insan kreatif dan menjadikan mendidik sebagai panggilan untuk menularkan visi, semangat, dan juga keterampilan hidup.

Jumlah guru harus cukup, karena anak-anak harus senantiasa mendapatkan panduan secara personal, tidak bisa massal. Nalar anak pada level pendidikan dasar, apalagi di masa-masa awal, belum bisa diandalkan untuk menggali ilmu pengetahuan secara mandiri. Dan jika telah digunakan sarana informasi mutakhir, di antaranya internet, pun harus mendapatkan pendampingan, agar mereka tidak salah dalam mengakses kontennya. Untuk bisa melakukan itu, rasio  ideal guru murid adalah 1:4-6. Dengan rasio ini, aktivitas pendidikan akan bisa diselenggarakan dengan sangat optimal. Saat ini, rasio 1:28 dianggap masih baik. Padahal sesungguhnya sulit membayangkan seorang guru memberikan perhatian dan kemudian memenej 28 murid.

Jika benar pemerintah saat ini ingin melanjutkan gagasan revolusi mental dan fokus kepada pembangunan kualitas SDM, maka permasalahan inilah yang harus segera diselesaikan. Pemerintah harus berani mengambil kebijakan radikal, apa pun risikonya, sehingga bisa memulai pembangunan kualitas SDM dengan benar. Anggaran pendidikan perlu diprioritaskan untuk meyediakan para pendidik dengan kualitas SDM terbaik dibandingkan profesi-profesi yang lain. Jalan strategisnya adalah merekrut para pendidik dari universitas-universitas excellent dari segala jurusan. Dengan begitu, mereka akan mampu menjadi contoh bagi anak-anak yang mereka didik. Dan tentu saja, untuk membuat mereka memiliki panggilan itu, fasilitas-fasilitas hidup layak harus juga dipenuhi. Apologi bahwa mengajar adalah panggilan tidak bisa digunakan dalam konteks pembangunan sistem yang menjadi tanggung jawab negara. Panggilan itu harus ditumbuhkan dengan berbagai cara, termasuk di antaranya pemberian fasilitas hidup yang mestinya juga mereka dapatkan ketika mereka bisa meraihnya dengan memilih profesi lain, agar para guru dari segala aspek tidak dipandang sebelah mata.

Kedua, lingkungan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang peserta didik. Ini yang sering tidak disadari dan bahkan mengalami kemunduran sangat parah. Lingkungan pendidikan yang saat ini disebut sekolah, identik dengan ruangan-ruangan berbentuk kubus yang membuat para peserta didik merasa hidup dalam penjara. Padahal mereka adalah anak-anak yang membutuhkan permainan untuk selalu senang dan riang. Namun, dalam masa itu mereka harus hidup dalam kotak-kotak yang menghalangi mereka, dan lebih jauh justru membatasi mereka untuk melakukan eksplorasi dengan nalar awal mereka yang sesungguhnya tidak boleh diremehkan. Anak-anak yang diberikan keluasan cakrawala bisa melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang bisa jadi tidak disangka-sangka. Bentuk ruangan belajar yang sekedar kotak-kota itu merupakan kemunduran, bahkan jika dibandingkan dengan era Yunani Kuno. Gagasan-gagasan filosofis Aristoteles, misalnya, dikenal sebagai filsafat peripatetik, karena Aristoteles mengajar dengan cara berjalan-jalan, tidak hanya di serambi gedung di Athena, melainkan melangkah lebih jauh ke alam terbuka, di taman-taman yang indah, sehingga lebih mudah membangkitkan nalar murid-muridnya. Mereka terhindar dari beban, dan justru menganggap bahwa pendidikan merupakan keperluan hidup untuk mengetahui dengan lebih baik alam sekitar. Fenomena alam semesta yang luas harus dilihat dengan mata telanjang mereka dengan sinar matahari yang terang. Mereka bisa merenungkannya lebih dalam ketika mata mereka terpejam dan matahari pergi meninggalkan kegelapan. Dari sanalah akan muncul kesadaran menjalani proses pendidikan. Anak akan bersemangat untuk belajar, karena menemukan proses yang sangat menyenangkan dan juga menantang. Kesadaran tentang kebutuhan pendidikan inilah yang menyebabkan orang-orang berusaha memiliki waktu luang untuk datang dan berguru kepada orang-orang yang dikenal berpengetahuan luas (filsuf). Itulah yang menjadi tempat bersenang-senang yang dalam bahasa Yunani adalah schole. Dengan lingkungan pendidikan berbentuk kubus dan kursi-kursi yang bahkan tidak bisa digerakkan sama sekali, anak-anak merasa dipasung, sehingga menyebabkan kebosanan.

Ketiga, inefisiensi. Dengan kualitas pendidik yang terbaik dan jumlah yang cukup, efisiensi terutama dalam hal waktu akan bisa dilakukan. Pelajaran yang sebelumnya diberikan dengan memakan waktu yang sesungguhnya terbilang sangat lama, akan bisa diberikan dalam waktu yang relatif singkat dengan kualitas serapan yang jauh lebih baik. Dengan merasakan senang dan tetap mendapatkan pengetahuan baru, anak-anak akan memiliki semangat yang lebih tinggi, karena tertarik untuk mendapatkan sesuatu yang baru.  Dengan demikian, lembaga pendidikan akan menghasilkan kaum muda belia dengan kemampuan yang jauh lebih baik. Jika kemampuan mereka difasilitas untuk mendapatkan pendidikan lanjutan secara optimal, maka hamper bisa dipastikan, mereka akan menjadi manusia-manusia super produktif dalam rentang waktu yang jauh lebih panjang. Siapa yang diuntungkan? Negara. Maka negara harus benar-benar serius untuk melaksanakan tugas konstitusional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dimulai dari pendidikan paling dasar. Wallahu a’lam bi al-shawab.

 


Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top KOLOM





Terkini



Dapatkan berita terkini setiap hari