Mbah Sadiman, Wariskan Mata Air Bukan Air Mata
Yayat R Cipasang
08 April 2017, 21:13 WIB
Penulis seorang kerani dan penyelia di RILIS.ID
berita
SEMENJAK terbang dari Jakarta rasa penasaran itu sudah muncul. Kendati sebelumnya, Mbah Sadiman yang dikenal sebagai Pahlawan Lingkungan yang kemudian diganjar pemerintah dengan penghargaan Kalpataru sudah tampil di sebuah televisi partikelir.

Apalagi bagi Kabupaten Wonogiri, meraih Kalpataru bukan kali pertama. Setidaknya sudah tiga kali baik lembaga maupun atasnama individu. Tapi Kalpataru yang diraih Mbah Sadiman ini sangat spesial.

Saat diperkenalkan di Pendopo Kantor Bupati Wonogiri kepada wartawan peserta Press Ghatering Koordinatoriat DPR, Sabtu (8/4/2017), Mbah Sadiman tak banyak bicara. Seperlunya saja dan lebih banyak mengumbar senyum.

Perawakannya kurus malah lebih tepatnya ceking dengan janggut panjang yang memutih. Pakaian  khasnya pagsi serba hitam serta sandal jepit swalau butut. Soal janggut ini juga yang menjadi guyonan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah. "Kalau dilihat dari janggutnya Mbah Sadiman ini PKS."

Kontan candaan Fahri ini mengundang tawa warrtawan dan juga undangan dari sejumlah anggota DPRD. Candaan Fahri tidak sampai di situ. "Tapi kalau dilihat dari topinya ada warna biru, Mbah Sadiman juga mewakili Partai Amanat Nasional," mengundang tawa seorang anggota DPRD dari PAN.

"Tapi kalau dari bibit yang ditanamnya beringin," kembali Fahri kembali mengundang tepuk tangan hadirin dan membuat anggota Komisi VIII DPR dari Dapil Jateng IV Endang Maria Astuti dari Fraksi Golkar tersenyum simpul.

Berfoto bersama Mbah Sadiman kini menjadi kebanggan tersendiri. Sejumlah undangan, wartawan dan juga pejabat dari Setjen DPR antre untuk berfoto bersama. Sejumlah wartawan bahkan langsung mengunggah foto di media sosial dan media pertemanan sebagai sebuah kebanggaan.

Namun itu tidak terjadi pada 25 tahun lalu. Mbah Sadiman tidak dianggap bahkan oleh tetangggannya disebut sebagai orang gendeng, wong gila. Tapi Mbah Sadiman bergeming dengan pendiriannya.

"Nggak apa-apa, niat saya cuma menanam pohon, biar hijau, biar adem," kata Mbah Sadiman.

Kegiataan Mbah Sadiman tidaknya hanya dicibir tetangga dan warga sekitarnya  tetapi juga ditentang sang istri. Gara-gara kegiatannya itu rumah tangga berantakan dan tidak harmonis. Uang dari hasil bertani yang paspasan bukannya untuk makan sehari-hari dan biaya sekolah anak tetapi sebagian malah dibelikan bibit beringin.

Pernah suatu hari, pria berusia 64 tahun ini meminta bantuan bibit tanaman ke sebuah instansi pemerintah. Tapi Mbah Sadiman pulang dengan tangan kosong. Dia tidak dendam dengan penolakan itu, melainkan semakin bertekad untuk bekerja sendiri tanpa meminta bantuan orang lain.

Malah Mbah Sadiman bercerita, untuk membeli bibit pohon beringin yang harganya antara Rp50 ribu hingga Rp100 ribu terpaksa menjual kambing satu-satunya. "Ini yang membuat istri marah besar," kata Mbah Sadiman yang membuat bukit Gendol kembali rimbun dengan pohon.

Setelah itu bapak dua anak ini tetap membeli bibit dan tak pernah bilang-bilang lagi sama istri. Warga Desa Geneng, Kecamatan Bulukerto ini tetap menanam di areal telantar seluas 600 hektare itu dengan pohon beringin.

Bukan hanya bukit Gendol menghijau, daerah gersang itu kini memiliki beberapa mata air yang mengalir jernih dan memberi kehidupan bagi warga sekitarnya. Hasil kegilaan seorang Sadiman malah menciptakan sebuah peradaban.

Seorang warga Wonogiri yang hadir di pendopo menyebutkan, Mbah Sadiman seorang pahlawan yang mewariskan mata air, bukan air mata. 

Musuh hasil kerja keras Mbah Sadiman ada dua, penebang pohon dan kebakaran hutan. Tapi dua musuh itu tak dihiraukannya, Mbah Sadiman tetap saja menanam pohon dan kini jejaknya diikuti putri pertamanya, Pujiati Padmaningsih.

Fahri menjelang acara berakhir memberikan sebuah amplop kepada Mbah Sadiman. "Saya punya uang lembaran hijau seperti daun-daun sisa dari luar negeri. Saya ini kalau ditugaskan ke negara-negara berbahaya seperti Irak. Ada sejumlah uang nanti Mbah Sadiman tukarkan cukup untuk memberi seekor sapi," ujarnya.

Mbah Sadiman tersenyum. Senyuman polos yang penuh inspirasi. Selamat, Mbah!


Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top KOLOM





Terkini



Dapatkan berita terkini setiap hari