Menanti PSI, Pemenang atau Pecundang
berita
Pimpinan Partai Solidaritas Indonesia. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma
Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jalan Imam Bonjol yang pada hari biasa sangat maskulin, pagi itu berubah serasa lebih feminin. Tentu, lebih wangi.

Grace Natalie dan Isyana Bagoes Oka yang pensiun dini dari layar televisi juga selebritas Twitter, Tsamara Amany datang menebar senyum. Mereka tiba diiringi tarian tradisional Papua.

Pagi itu mereka mencatatkan, Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Selasa (10/10/2017), bakal dikenang sebagai partai politik kedua yang mendaftar untuk mengikuti perhelatan akbar Pemilu 2019, dengan membawa dokumen 150 kontainer.

Seperti biasa, Ketua Umum PSI Grace Natalie selalu berapi-api ketika bicara tentang partainya. Apalagi bila mengkritik kondisi partai politik kiwari, terutama tentang DPR.

"Partai politik dan DPR selalu berada di tempat terendah dari sisi kepercayaan masyarakat. Jadi DPR dan partai ini sudah berada di titik nadir," ujarnya, penuh semangat.

Setelah mengkritik partai habis-habisan, kemudian Grace keluarkan 'solusinya' sebagai penawar. Penawar itu di antaranya PSI akan menyeleksi secara ketat calon legislatifnya lewat panel independen dan pendanaan partai berasal dari publik.

"PSI mencoba menawarkan sebuah proses seleksi calon legislatif yang terbuka, transparan, profesional dengan sistem pendanaan yang dilakukan sendiri oleh publik," janjinya.

Pengamat politik dari Universitas Trunojoyo, Madura, Surokim Abdussalam menilai  pernyataan PSI yang menuding parpol dan DPR tidak dipercaya masyarakat hanya siasat dan cara jualan partai debutan untuk meraih simpati publik.

 “Kalau yang menyampaikan itu orang parpol 11-12. Sama saja, nggak ada maknanya," kata Surokim.

Surokim mengatakan, bisa jadi ketika sudah di Senayan, PSI juga akan masuk dalam lingkaran partai-partai yang sedang berkuasa seperti sekarang. Pernyataan PSI itu dinilai hanya sebatas lips service untuk meraih perhatian publik.

"PSI bilang begitu karena belum masuk pusaran kekuasaan saja. Bagi saya nggak ada maknanya kata-kata itu. Hanya hiasan saja,” tegasnya.

Menurut Surokim, masyarakat sekarang sangat kritis dan cerdas. Mereka sudah tidak mempan diberi janji-janji politik yang manis. "Masyarakat nggak mudah digombali," katanya.

Terkait pendanaan partai yang melibatkan publik, pengamat politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun menyangsikanya bakal terlaksana. Apalagi partai tersebut baru memulai bukan partai eksis di Senayan. Partai yang sudah ada sejak zaman Orde Baru saja tidak mampu.

Ubedilah menyebut, semua yang dikatakan PSI hanya wacana selebihnya partai akan berperilaku dan memiliki watak yang sama. Malah Ubedilah mencurigai, PSI didanai pemodal besar.

"Saya melihat PSI memiliki financial capital yang besar dari cara mereka berkampanye di media, iklan dan di jalanan. Ini menunjukkan PSI yang punya modal finansial yang kuat. Saya melihat angkanya lumayan kalau dikalkulasi," kata Ubedilah.

Modal besar, menurut Ubedilah tentu sangat bagus untuk mendukung mesin partai. Namun bila pemilik modal tersebut memiliki kontrak dan partai dikendalikan pemilik modal, ke depan bisa berbahaya. Bukan hanya untuk PSI tetapi juga bagi bangsa ini.

"Siapa pemilik modal di balik PSI ini? Saya melihat PSI juga tergantung pada pemilik modal," imbuhnya.

"Saya pikir PSI harus jujur apakah pembiayaan dari iuran anggota atau investasi pemilik modal," tambahnya.

Apalagi, PSI mengidentifikasi dirinya sebagai partai anak muda yang dikelola secara modern. 

"Kalau PSI sebagai partai modern tentu harus ada transparansi juga soal pengelolaan keuangan. Progresifitas mereka bisa tergerus oleh kepentingan politik bukan kepentingan ideologis," ujarnya.

Pilihan politik PSI pun yang langsung mendukung pemerintah dianggap menunjukkan ketidakpercayaan diri sebagai sebuah partai baru. Padahal sikap oposisi bagi sebuah partai baru bisa mencuri perhatian masyarakat.

Menurut pengamat politik Network for South East Asian Studies (NSEAS), Muchtar Effendi Harahap dukungan PSI kepada Jokowi tidak akan memberikan pengaruh apa-apa terhadap elektabilitas.

"Tidak ada pengaruhnya sama sekali pada elektabilitas Jokowi. Tak usahlah PSI. Toh, dukungan empat parpol (Golkar, Hanura, Nasdem dan PPP) yang menjadi peserta Pemilu 2014 pun tidak berpengaruh positif terhadap elektabilitas Jokowi. Terbukti dukungan empat paprol itu justru elektabilitas Jokowi menurun dari sebelumnya di atas 50 persen menjadi di bawah 50 persen," ungkapnya.

Seharusnya PSI, kata Muchtar, memfokuskan diri pada penjumlahan kader dan membangun kekuatan internal.

"Partai sekelas PDI Perjuangan yang menjadi pemenang pemilu pun tidak terburu-buru mendukung Jokowi. Apalagi belum ada kepastian bahwa Jokowi akan  menjadi capres pada Pilpres 2019," pungkasnya.

Sebagai partai baru, PSI langsung mematok terget tinggi menghadapi pemilihan legislatif 2019 mendatang. Tak tanggung-tanggung, PSI mematok angka 10 persen dari angka Parliament Threshold 3,5 persen.

Ketua Bappilu PSI, Sumardy yakin target tersebut sangat realistis bagi partainya. Dia melihat ada kantong-kantong suara yang belum digarap maksimal.

"Pada 2014, dari 180 juta daftar pemilih tetap dalam data KPU yang milih hanya 130 juta. Sekitar 28 persen golput. Kenapa golput karen mereka tidak percaya politisi-politisi sekarang itu. Jadi pemenang Pemilu sebenarnya anak muda yang golput bukan PDIP," ungkapnya, yakin.

Akankah PSI sampai ke Senayan atau hanya berteriak di luar gelanggang sebagai partai gurem. Hanya waktu yang akan membuktikan.

Grace Natalie, Isyana Bagoes Oka dan Tsamara Amany yang mendapat perhatian lebih dari fotografer pagi itu terus menebar senyum optimisme. Saat Tsamara Amany dan Isyana Bagoes Oka berswafoto pun tak luput dari perhatian pewarta. Mereka benar-benar jadi selebritas.


Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Elektoral



Terkini



Dapatkan berita terkini setiap hari