Musim Kemarau, Petani Kedelai Masih Bertahan
berita
FOTO: Humas Balitbangtan
RILIS.ID, Jakarta— Tidak satu pun di antara kita yang tidak menyadari, bahwa kemarau tahun ini terasa begitu panjang. Sampai bulan Agustus, hujan tidak kunjung datang. Hanya tanah kering, pecah-pecah sepanjang mata memandang. Namun, ini semua tidak berujung pada pesimisme bagi KT. Sido Makmur, Kelurahan Berbak, Kabupaten Tanjab Timur. Dua hari ini (22 – 23 Agustus 2019) anggota KT. Sido Makmur bersukaria karena memanen kedelai seluas 10 hektare.

“Hasilnya seperti ini Pak, kalau saja ada sedikit hujan, polong kacang kuning ini akan lebih besar dan elok hasilnya, walaupun hasil ini sudah cukup memuaskan”, tutur Trianto, Ketua KT. Sido Makmur bersyukur sambil mengupas kedelai untuk memperlihatkan isinya.

Selama kurang lebih 85 hari, Trianto dan anggotanya menggarap lahan seluas 10 hektare untuk perbanyakan benih kedelai varietas Anjasmoro. Anjasmoro hasil inovasi Badan Litbang memang menjadi primadona bagi petani lahan kering.

“Anjasmoro itu tahan penyakit, tahan kering dan polongnya tidak mudah pecah, Bu,” jawab anggota-anggota kelompok tani bersahut-sahutan menjawab pertanyaan Tim UPBS Kedelai yang melakukan pendampingan panen.

Trianto dan anggotanya berencana menyelesaikan panen dalam 3 hari ke depan sehingga untuk prosessing sesuai SOP yang ditetapkan Unit Pelaksana Teknis Daerah – Balai Pengawadan dan Sertifikasi Perbenihan Tanaman (UPTD BPSPT). Untuk itu Trianto mengaku membutuhkan arahan dari Tim Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) Kedelai BPTP Jambi. Trianto tidak ingin hasil jerih payahnya dan anggotanya tidak lulus saat sertifikasi. Dalam kunjungannya, Ir. Yardha, penanggung jawab UPBS Kedelai dan Hery Nugroho, S.P., M.P. peneliti bidang perbenihan memberi arahan singkat da jelas, sehingga dapat dipahami oleh Trianto dan anggotanya.

“Peralatan atau perlengkapan yang digunakan untuk panen dan prosesing harus bersih terutama dari jenis atau varietas yang tidak sama dengan yang akan diproses,” terang Yardha.

Hery Nugroho menambahkan, untuk mengetahui mutu benih yang dihasilkan setelah dinyatakan lulus lapangan maka perlu diuji mutunya di laboratorium oleh analis benih, yang meliputi uji kadar air, kemurnian, kotoran benih, campuran varietas lain, benih tanaman lain dan daya tumbuh. Hasil ubinan diperkirakan 1,5 ton per hektare disebut sebagai hasil yang tidak mengecewakan.

"Harapan kita semua, proses sertifikasi dapat selesai sampai benih telah dipasang label dan disegel”, pungkasnya. 

Sumber: Ratna Rubiana/BPTP Jambi


Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Bisnis



Terkini



Dapatkan berita terkini setiap hari