Pertemuan Bersejarah Trump-Kim Digelar Mei
berita
Direktur Keamanan Nasional Korsel Chung Eui-yong menyampaikan konferensi pers di halaman Gedung Putih, Washington, usai melaporkan hasil pertemuan dengan pemimpin Korut Kim Kong-un kepada Presiden AS Donald Trump, kemarin (8/3/2018). FOTO: AP/Susan Walsh
RILIS.ID, Washington— Donald Trump akan menjadi satu-satunya Presiden Amerika Serikat (AS) yang akan bertemu dengan pemimpin Korea Utara (Korut). 

Pada Kamis (8/3/2018) kemarin, delegasi Korea Selatan (Korsel) dan pejabat AS menyatakan, Trump telah menyetujui untuk bertemu dengan pemimpin Korut Kim Jong-un. 

Chung Eui-yong, pimpinan delegasi Korsel yang pada Senin (6/3) lalu diterima Kim di Pyongyang berbicara di depan Gedung Putih mengenai rencana pertemuan dua pemimpin yang kerap melempar perang pernyataan tersebut.

Chung menyampaikan, pertemuan diagendakan digelar pada bulan Mei nanti. Pertemuan itu terbilang akan menjadi pertemuan bersejarah setelah selama hampir tujuh dekade kedua negara berada dalam situasi tegang akibat Perang Korea pada 1950-1953.

Sejak saat itu, hubungan antara Korut (didukung negara komunis, Uni Soviet dan Cina) dengan Korsel (didukung AS) berstatus "gencatan senjata", dan belum terbubuhkan kesepakatan damai hingga kini.

Dalam pertemuan dengan Trump, Chung mengatakan bahwa Kim telah menyatakan komitmennya untuk melakukan pelucutan nuklir dan menahan diri dari uji coba nuklir balistik. 

"Dia (Kim) menyatakan keinginannya untuk bertemu Presiden Trump sesegera mungkin. Presiden Trump mengapresiasi pertemuan tersebut (Korut-Korsel) dan menyatakan akan bertemu Kim Jong-un pada Mei nanti untuk mengupayakan pelucutan nuklir secara permanen," kata Chung.

Namun, Chung belum mau menyampaikan mengenai tempat digelarnya pertemuan Trump-Kim. "Waktu dan tempat akan segera ditentukan," lanjut Chung.


Stasiun berita di Korsel memberitakan mengenai Presiden AS Donald Trump dengan pemimpin Korut Kim Jong-un. FOTO: AP/Ahn Young-joon

Chung beserta delegasi Korsel lainnya bertolak dari Pyongyang langsung ke Washington pada Selasa, 7 Maret. Saat itu Chung telah menyatakan, Korut bersedia menormalisasi hubungan dengan AS menggelar dialog antar pemimpin. 

Namun, mengingat sengitnya tudingan dan lontaran perang urat syaraf antara Trump dengan Kim, timbul pertanyaan, apakah keduanya siap untuk bertemu?

Trump, pemimpin yang senang meluapkan "unek-uneknya" melalui Twitter beberapa kali menyerang Kim Jong-un secara langsung. Selain itu, Trump juga menjatuhkan sanksi ekonomi sebagai upaya melucuti nuklir Korut.

Sementara Kim merespons pernyataan Trump dengan mengancam, "tombol nuklir" Korut yang diprediksi mampu menjangkau AS berada di meja kerjanya. 

Trump pun membalas, "tombol nuklir AS jauh lebih besar dan berfungsi."

Terlepas dari dinamika ketegangan kedua pemimpin tersebut, Kim dalam pertemuan dengan Korsel Senin lalu memaklumi latihan militer bersama antara AS dengan Korsel--sekalipun hal itu dinilai sebagai ancaman bagi Korut.

Melansir dari Associated Press, Trump mengungkapkan harapan dan rasa skeptisnya mengenai rencana pertemuannya dengan Kim.


Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Dunia





Terkini



Dapatkan berita terkini setiap hari