Rupiah Bakal 'Galau' di 2020-2022, Ini Penjelasannya
berita
Ilustrasi pertukaran mata uang Rupiah dengan Dollar AS
RILIS.ID, Jakarta— Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat diprediksi stabil pada tahun 2019 ini. Namun, merujuk pada kebijakan bank sentral AS The Fed, mata uang Garuda diramal akan bergejolak pada medio 2021-2022.

Menteri Keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Muhammad Chatib Basri memperkirakan The Fed akan mengerek suku bunga sesuai target pada 2021. 

Perkiraan itu berdasarkan hasil survei dari anggota rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), yang menyebut tingkat suku bunga The Fed masih akan datar (flat) pada 2019-2020, namun harus naik lagi pada 2021-2022.

"Rupiah Berarti akan stabil di 2019-2020 dan itu mungkin Rupiah akan bergejolak di 2021-2022," kata Chatib Basri, Selasa (10/12/2019).

Dia menjelaskan kebijakan moneter bank di bawah kepemimpinan Jerome Powell akan mempengaruhi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Jika The Fed menurunkan suku bunga, maka arus modal naik mengalir ke negara berkembang sehingga meningkatkan nilai tukar rupiah.

Bertolak, jika The Fed mengerek naik suku bunga maka aliran modal beramai-ramai kembali ke AS. Tahun 2019 dan 2020, ia memprediksi The Fed belum akan menaikkan suku bunga, tetapi ruang The Fed untuk menurunkan suku bunga juga terbatas.

"Jika itu yang diperlukan maka kami akan memiliki gambaran Rupiah yang relatif stabil di tahun ini dan tahun depan sekitar Rp14.500 atau dalam rentang yang sesuai dengan permintaan pemerintah," tukasnya. 


Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Bisnis



Terkini



Dapatkan berita terkini setiap hari