Sebar Isu Bom, Mahasiswa di Kupang Diciduk Polisi
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza
RILIS.ID, Kupang— Mahasiswa Fakultas Peternakan sebuah perguruan tinggi di Kupang, Nusa Tenggara Timur diciduk Tim Cyber Direskrimsus, Polda provinsi itu atas tuduhan menyebar ancaman bom di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Kupang lewat akun Facebook-nya.

"MGM kami tangkap Senin (5/3) kemarin, setelah tim patroli cyber menemukan akun Facebook yang menyebarkan isu bom terhadap Transmart Kupang," kata Wakil Direktur Ditreskrimum Polda NTT, AKBP Yandri Irsan kepada wartawan di Kupang, Selasa (6/3/2018).

Ia menjelaskan, ancaman bom tersebut disebarkan MGM melalui akun Facebook atas nama Lymor Beitenis Laohan (lymor AG) dalam sebuah grup Facebook Victor Lerik.

Akun tersebut menuliskan, "skrg semua status mengarah pada Transmart. Kamu tunggu besok beta pi pasang bom di Transmart dulu ew".

Yandri menjelaskan, tulisan tersebut diunggah sehari setelah salah satu pusat perbelanjaan di Kota Kupang diresmikan penggunaannya oleh Gubernur NTT Frans Lebu Raya, Sabtu (3/3) kemarin.

"Yang bersangkutan meng-upload tulisan itu pada Minggu pukul 00.30 Wita. Tim kami, melakukan monitor dan pada siang harinya kami ungkap dan berhasil mengamankan pelaku di kos-kosan rekannya dengan dukungan IT dan kerja sama dengan Polres Kupang Kota," katanya.

Hasil pendalaman kasus tersebut, lanjutnya, mendapati dua alat bukti yang cukup sehingga mahasiswa semester 10 Fakultas Peternakan sebuah universitas di Kupang itu ditingkatkan statusnya menjadi tersangka.

"Barang bukti yang diamankan ada beberapa seperti screen shot berisi bunyi ancaman bom, handphone dan sim card-nya," katanya.

Ia menjelaskan, hasil pemeriksaan sementara diketahui modus tersangka melakukan tindakan tersebut hanya untuk iseng.

"Namun penyidik masih terus mendalami apakah ada modus lain, ataukah ada pihak lain yang terlibat untuk mengungkap kasus ini sampai terang," katanya.

Atas kasus itu, tersangka dijerat Pasal 45 junto Pasal 27 ayat (4) Undang-Undang IT Nomor 11 Tahun 2008 diubah dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara.
 

Sumber: ANTARA


Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Daerah



Terkini



Dapatkan berita terkini setiap hari