Siapa Bilang Pergi Pagi Pulang Malam itu Berat?
berita
Plt Sekretaris BNPP Widodo Sigit Pudjianto. FOTO: Dok BNPP
NAMANYA Widodo Sigit Pudjianto. Lebih akrab dipanggil Pak Sigit. Jabatannya adalah Kepala Biro Hukum Kementerian Dalam Negeri. Tapi, pada 26 Februari 2018, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menunjuk Sigit sebagai pelaksana tugas Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP).

Pria yang dibesarkan di daerah Tulung Agung ini, sudah 29 tahun berkarier di Kementerian Dalam Negeri. Sejak tahun 89 berkantor di kawasan Medan Merdeka Utara, Sigit sudah merasakan asam garamnya menjadi seorang aparatur sipil negara.

Jabatan pertamannya adalah sebagai kepala seksi di Ditjen Bina Pembangunan Daerah pada 2000, lalu pindah ke Ditjen Kesatuan Bangsa dan Politik (Poltik dan Pemerintahan Umum). Di sana, ia menjadi kepala sub direktorat organisasi masyarakat (ormas).

Barulah di 2001, ia naik jadi eselon III, sebagai kepala bagian perencanaan di Setjen. Lalu, di tahun 2010, ia dilantik sebagai eselon II, selaku Direktur Pengembangan Ekonomi Daerah, Ditjen Bina Pembangunan Daerah. Terakhir, 2014 Kepala Biro Hukum Kemendagri.

Sigit juga pernah ditunjuk sebagai pelaksana tugas Staf Ahli Menteri bidang Aparatur dan Pelayanan Publik pada 2016.

Berbagai prestasi pun pernah ia kembangkan, di antaranya adalah Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) dan Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Terbentuknya dua gagasan ini, juga berkat kerja sama Kemendagri bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Anggota Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas angkatan ke-49, sekaligus bekas mahasiswa Universitas Airlangga ini, baru saja memperoleh gelar doktornya di Kampus IPDN, Januari lalu. Disertasi berjudul "Analisis Akuntabilitas Kinerja Gubernur Provinsi Jawa Timur".

Yang banyak menjadi pertanyaan orang adalah soal gayanya yang agak-agak beda, saat salat Jumat. Bila banyak orang menggunakan pakaian gamis, atau baju koko, ia malah berpakaian adat jawa, lengkap dengan blankon di kepalanya. Kok begitu?

Yuk simak cerita-cerita Pak Sigit selama jadi ASN di Kemendagri, hingga kini menjabat di BNPP. Wartawan rilis.id, Zulhamdi Yahmin, mewawancarai dirinya soal hal-hal unik di balik layar seorang pejabat publik di instansi pemerintah

Kenapa Anda suka nyentrik kalau salat Jumat?
Itu kan dalam rangka melestarikan budaya kita. Ini adalah produk lokal, hasil budaya leluhur, lain halnya dengan pakaian seperti gamis. Dan, kalau salat juga tidak ada larangan mengenakan pakaian seperti ini toh. Jadi, saya bukan karena ingin pencitraan atau gaya-gayaan.

Bagaimana Anda bagi waktu antara kerjaan di Kemendagri dan BNPP?
Kebiasaan saya itu, pagi sudah bangun. Habis subuh saya berangkat, lalu saya pulang malam. Kalau pulang sore itu macet, sampai rumah akhirnya malam juga. Nah, bagi-bagi waktunya itu, kalau pagi sampai siang saya di Kemendagri, terus selesai makan siang ke BNPP.

Apa keluarga tidak komentar kalau Anda pergi pagi pulang malam begitu?
Yang komentar itu anak saya. Katanya, kok Bapak enggak bisa menikmati hidup sih. Tapi, itu kan persepsi anak saya, kalau saya itu sambil bekerja, ya bisa kok menikmati hidup. Makanya, saya suka sempatkan waktu buat olahraga pagi pas sampai kantor.

Saya tidak hobi main golf atau apa, cuma jalan kaki saja. Ini murah meriah. Jadi, sampai kantor pagi-pagi, biasanya Selasa sama Jumat, saya keliling Monas. Satu jam cukup, dari jam enam sampai jam tujuh. Terus, balik kantor dan mandi di sana.

Hal apa di kantor yang sering bikin Anda geram dengan kerjaan?
Ya itu, saya agak kesal kalau teman-teman (staf), lamban dalam merespons kerjaan. Nanti, alasannya handphone mati, ini bikin jengkel. Saya sendiri penginnya kerjaan itu dikerjakan dengan baik, kalau bisa sempurna. Kalau tekanan (atasan) sih tidak bikin saya khawatir.

Banyak pejabat daerah terjerat OTT KPK, Anda ada ketakutan ke sana?
Enggak ada. Karena, saya punya sikap. Kalau benar ya benar lah. Tidak ada kebenaran yang mendua. Kebenaran itu satu. Jadi, saya bekerja yang benar-benar saja, sesuai aturan.

Apa tantangan kerjaan selama jadi pejabat publik, berat enggak?
Enggak berat sih. Ini mengalir saja. Begini contohnya, misal ada pejabat daerah yang kena kasus narkoba. Di satu sisi, kalau melihat Undang-Undang kan tidak bisa dipecat yah. Tapi, di satu sisi, Indonesia ini sudah darurat narkoba. Itu dikatakan Presiden Jokowi juga.

Saya selaku bawahan Presiden, ya saya terjemahkan, artinya kalau ada pejabat daerah yang main-main dengan narkoba, harus dipecat. Memang kebijakan ini pernah jadi masalah, dibawa ke TUN (Pengadilan Tata Usaha Negara). Tapi, pas banding, kami menang di MA (Mahkamah Agung).

Ini tinggal bagaimana kita membaca dan melihat arah dinamikanya saja. Kan, kita hanya ingin coba menerjemahkan maunya Presiden, saya sebagai kepala biro hukum, ya ke sana. Sama seperti di BNPP, saya diminta mewujudkan keamanan dan kesejahteraan masyarakat perbatasan.

Kabarnya, Anda pensiun Maret tahun depan, apa kegiatan ke depannya?
Saya mau istirahatlah. Nikmati saja hidup sama anak dan cucu. Karena, apa yang saya lakukan sekarang, inilah yang semaksimal mungkin bisa saya berikan untuk bangsa dan negara. Pas nanti sudah pensiun, kontribusi saya ke hal-hal yang bersifat sosial saja.

Pesan Anda kepada para ASN ini seperti apa?
Kerja itu, harus apa yang diperintah oleh pimpinan, kerjakan dengan maksimal dan ikhlas. Artinya, keterampilan, skill dan knowledge terus selalu kita tingkatkan, nanti pasti akan membuahkan kepercayaan. Implikasinya, karier pasti akan bagus.

Kalau karier bagus, kesejahteraan pasti meningkat. Terus, kalau ada yang minta bantuan, harus selalu siap membantunya, jangan tolak dengan alasan ini itu. Bantulah semaksimal mungkin.

Bagaimana cerita Anda waktu jadi staf dulu?
Saya pernah sangat mengalami juga zaman itu. Dulu, ASN ini gajinya pas-pasan. Makanya, saya selalu cari lemburan. Ini buat bayar kontrakan. Saya juga isi-isi waktu buat ngajar-ngajar di sekolah, terus nyambi jadi dosen. Terakhir, saya jadi penulis di Majalah Prioritas.

Editor:


Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Inspirasi





Terkini



Dapatkan berita terkini setiap hari