Soekarwo, Risma dan Khofifah Berpengaruh di Pilwali Surabaya
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza
RILIS.ID, Surabaya— Pelaksanaan Pemilihan Walikota Surabaya pada 2020 tidak akan lepas efek tiga tokoh besar. Seperti halnya Walikota Surabaya Tri Risma Harini, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, dan Gubernur Jatim terpilih yang juga ketua Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa.

Ketiga tokoh tersebut tentunya akan memiliki pilihannya sendiri yang dianggap layak dalam pertarungan Cawali Surabaya Risma yang notabenenya politikus PDIP tentunya juga akan mendukung keputusan partai. Nama-nama yang beredar dalam bursa bakal cawali yakni Puti Guntur Soekarno (cucu pendiri bangsa yang juga Presiden RI pertama, Seokarno), Wakil Walikota Surabaya Wisnu Sakti Buana, ketua DPRD Surabaya Armudji, dan Sekretaris DPD PDIP Jatim Sri Untari.

Sementara Soekarwo tentunya menginginkan menantunya sendiri Bayu Airlangga karena kader Demokrat. Sedangkan Khofifah, kabar yang beredar adalah juru bicara Khofifah-Emil saat Pilgub 2018, KH Zahrul Azhar Asad (Gus Hans).

Dirut Utama Surabaya Survey Center(SSC), Moectar W Oetomo mengatakan, PDIP tidak lepas dari prestasi  Presiden RI Joko Widodo. Di sisi lain, munculnya banyak nama tersebut tidak lepas proses Pileg karena caleg yang turun di lapangan terkadang menyebut nama mereka.

"Contoh, Wisnu Sakti Buana sering muncul di media dan disebut caleg karena dia sebagai wawali dan ketua DPC PDIP Surabaya," papar Moectar usai menjadi pembicara dalam rilis SSC yang bertemakan 'Dari Pemilu 2019 Hingga Pilwali Surabaya 2020', di Surabaya, Rabu (9/1).

Moectar menjelaskan, untuk mengukurnya haris ada riset karena menyajikan angka. Namun masing-masing tokoh tersebut mempunyai kelebihannya sendiri. Seperi halnya, Risma sudah diakui masyarakat atas prestasinya. Tingkat kepuasaan terhadap kinerja Risma cukup tinggi.

Begitu juga Soekarwo, prestasi membangun Jatim termasuk Surabaya sangat tinggi. Sementara Khofifah baru saja terpilij menjadi gubernur Jatim dan masih hangat dalam ingatan publik.

"Kalau mengukur sekarang tidak fair menurut saya, karena Soekarwo sebentar tidak menjadi gubernur. Khofifah menjadi gubernur, sehingga akan ada dinamika," terangnya.

Kekuatan massa Muslimat NU tidak harus linear dengan Pilgub 2018, meski berhasil mengusai Surabaya yang merupakan basis PDIP. " Selama ini Surabaya kandang PDIP hingga walikotanya selalu dari PDIP. Maka tidak pengaruh," tuturnya.

Menariknya, pada survei elektabilitas nama yang didukung Risma mendapatkan modal awal 9 persen. Siapapun nama yang mendapatkan dukungan dari Risma secara otomatis telah memiliki modal 9 persen. Sudah sangat cukup untuk langkah awal. 

Hal senada peneliti SSC, Surokim menegaskan, bahwa pejabat pasti membawa efek, apakah efek Pakde Karwo, Khofifah atau Risma. Ketiga tokoh tersebut memilikih pemilih loyal di Jatim Surabaya. Pemilih milenial tentunya harus menggaet nama-nama tokoh besar. "Taruhlah Bayu Airlangga menggaet nama Pakde Karwo, Azrul Ananda (Presiden Persebaya) tidak menggaet nama bapaknya, Dahlan Iskan, maka kesulitan," tuturnya.

Jika tidak menggaetkan tokoh besar, maka akan muncul problematik untuknmeningkatkan elektabilitasnya. Hanya saja, tidak mudah untuk mendapatkan endorsement (dukungan) dari tokoh besar, kecuali pernah berjasa di partainya. "Efek Risma, khofifah dan Pakde Karwo kalau dilihat sama, ya sekitaran 9 persen itu," terangnya.

Selain menggaet nama tokoh besar, bakal calon dari milineal dibutuhkan kredibilitas, dan juga memiliki kapasitas visioner. "Ini untuk mengejar swing voter," pungkasnya

 

Editor: Elvi R

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Elektoral

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari