Sukmawati Bantah Nistakan Agama, Novel Bamukmin Tunggu Sikap MUI
berita
Sukmawati Soekarnoputri. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma
RILIS.ID, Jakarta— Sekretaris Jendral (Sekjen) Koordinator Bela Islam (Korlabi) Novel Bamukmin berharap Majelis Ulama Indonesia bisa mengambil sikap terkait kasus dugaan penistaan agama oleh Sukmawati Soekarnoputri. Hal ini seiring bantahan Sukmawati yang dikatakan menistakan agama terkait ucapannya yang menyinggung Nabi Muhammad SAW.

Awalnya, Novel Bamukmin mengatakan dirinya memiliki dua pandangan terkait dugaan penistaan agama yang dilakukan Sukmawati. Dia lalu menyinggung Pasal 156a KUHP.

"Saya berikan dua pandangan hukum Islam dan hukum positif," kata Novel, dilansir dari Detik.com, Minggu (17/11/2019).

Novel mengatakan, dalam pandangan hukum positif yang berlaku saat ini adalah pasal 156a KUHP dengan ancaman hukuman penjara maksimal 5 tahun dan ini adalah delik umum.

"Dalam ucapan Sukmawati yang kapasitasnya bukan orang yang paham akan agama Islam mengucapkan itu di depan umum, bahkan di hadapan kamera yang dia sadar apa yang diucapkannya, dan ini ada maksud unsur niat atau sikap batin saat melakukan (mens rea), yang jelas tidak baik karena bukan kali ini saja Sukmawati melakukan penghinaan yang sebelumnya telah menyinggung suara azan dan hijab," imbuh Novel.

Dia menilai tindakan Sukmawati kali ini bisa memberatkan karena menurutnya sebagai pengulangan, bukan hanya kelalaian. Bahkan dia menduga ada penyakit kebencian yang melekat pada Sukmawati.

"Yurisprudensi kasus dugaan penista agama yang dilakukan Sukmawati ini adalah persis dengan kasus Arswendo Atmowiloto yang akhirnya divonis 5 tahun penjara sesuai dengan Pasal 156a yang kasusnya Arswendo ketika membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan para tokoh bangsa dan memposisikan Nabi Muhammad di posisi ke-11, itu kira-kira yang saya ingat," jelas Novel.

Lebih lanjut Sekjen Korlabi ini bicara soal penistaan agama dari pandangan agama. Menurutnya, sudah ada unsur penodaan agama dari ucapan Sukmawati.

"Menurut saya dalam pandangan agama yang saya pahami, jelas unsur penistaan agamanya sudah masuk. Dan dalam paham aswaja yang saya pahami juga yaitu bahwa Rasulullah adalah manusia suci (ma'sum) yang terpelihara dari dosa, tidak mungkin berbuat dosa, yang dijamin masuk surga tanpa hisab. 'Apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Rasulullah adalah wahyu yang diwahyukan oleh Allah SWT kepadanya (Al Ayat)' dan juga 'Akhlak Rasulullah adalah Alquran (hadist)'. Sehingga tidak bisa dibandingkan dengan makhluk di dunia manapun dari zaman Nabi Adam sampai yaumul akhir," pungkasnya.


Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Nasional



Terkini



Dapatkan berita terkini setiap hari