berita
FOTO: Istimewa
Oleh: Jhon Fernandes Dollu Klaping

Perintis Organisasi Gerakan Mahasiswa Nusa Tenggara Timur Ypup Makassar

Manusia tidak bisa tidak mengenal dan mengilhami perbedaan. Dalam buku Asal dan Tujuan Manusai oleh Franz Dahler (2000), Bahasa merekam pengalaman-pengalaman manusia dan merupakan sarana untuk menyampakannya kepada manusia lain. Bahkan sebenarnya dapat dikatakan bahwa sebagian besar pemikiran manusia berada dalam arus bahasa dan menjadi dasar dari tindakannya.

Kenyataan ini menjelaskan bahwa karena ada berbagai macam bahasa yang digunakan manusia di seluruh dunia maka ada pula berbagai macam kebudayaan yang berbeda-beda. 

Karena bahasa, ada kemungkinan manusia yang satu menggalang kerja sama dengan manusia yang lain pada satu sisi, ada pula kemungkinan manusia satu menjatuhkan lalu menendang manusia lain pada sisi yang tertentu.

Kita dapat mengkonsepsikan suatu kenyataan yang terekam oleh pengalaman-pengalaman bahwa keberagamanan masyarakat Indonesia adalah suatu kenyataan.

Dari situ saya melihat bahwa segala sesuatu bergantung pada "sesuatu". Bahwa dalam banyak hal,  segala sesuatu tampak berbeda. Yang berbeda dari segala sesuatu itu ada. Namun keberadaan “beda” tidak berubah, ia mantap dan tetap dalam keabadian.

Di dalam bangsa ini, keragaman merupakan suatu fakta. Keragaman Indonesia nyata dari jenis-jenis ras manusia-nya. Tiap ras itu pecah menjadi bangsa-bangsa, bangsa-bangsa menjadi suku-suku, suku-suku menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil, yang masing-masing mempunyai bahasa, logat, dialek sendiri-sendiri. Di dalam yang ragam itu, ada pula agama dan keyakinan. Dikutip dari Asal dan Tujuan Manusai oleh Franz Dahler (200).

Keragaman ini menguntungkan kalau kita dapat memeluk erat dalam kesadaran total. Tapi jika dilihat dalam perspektif persatuan dan kesatuan, akhir-akhir ini, keragaman sering menjadi hambatan yang besar dalam upaya memajukan bangsa sendiri.

Prinsip berbeda-beda tetapi satu, rasa-rasanya tidak putus dipercakapkan. Tidak lelah disosialisasikan. Dan tidak jarang memakan anggaran miliaran rupiah. Namun, rupanya Bhineka Tunggal Ika hanya hidup dalam teks, ia nyaris tidak teraba dalam tindakan. Akhirnya kita berbeda-beda tetapi tidak satu menjadi nyata.

Kita memang begitu berbeda. Tetapi berbeda itu penting, mahapenting. Karena begitu pentingnya, kita harus bersatu dengan tetap berbeda. Saya selalu bertanya dan itu banyak sekali. Ada yang tidak terjawab, ada pula yang belum terjawab; apa hakekat dari perbedaaan? Apakah kita benar-benar berbeda? Apakah perbedaan kita berbeda sebenar-benarnya? Bukankah yang disebut persatuan dan kesatuan yang kata dasarnya adalah "satu" merupakan sintesis dari yang berbeda-beda itu?

Akhir-akhir ini, keragaman kita terus dinodai dengan harta dan tahta atau kepentingan individu, kelompok dan golongan. Oleh karena harta dan tahta, yang berbeda tetaplah beda, yang sama tidak boleh disamakan dengan yang berbeda.

Pada titik itu, harta dan tahtalah yang menjadi prinsip. Ia hidup dalam teks sekaligus konteks orang perorangan, dari kelompok yang satu ke kelompok tertentu. 

Harta dan tahta (kepentingan) tersebut mengakar dalam pemikiran, perasaan, tanggapan dan penalaran "mereka". Kemudian  menjadi suatu sistem filosofis yang menjadi dasar dari perilkau mereka.

Manakala perilaku buta ini terus di pupuk dan di rawat, maka pilar bangsa yakni Bhineka Tunggal Ika yang telah mengakar, tumbuh dan hidup dalam kebudayaan Indonesia menjadi suatu pilar yang kehilangan esensi dalam kenyataan bermasyarakat.  

Tentang yang berbeda, apakah sebaiknya dibedakan? dan sekali waktu dibeda-bedakan?

Sejatinya keragaman ialah bahwa dalammu (keragaman) ada sama dan beda, yang menuntut untuk hidup berdampingan. Hanya saja, yang sama dan beda bersama disana dengan tidak bersesamaBersesama – suatu istilah yang pernah saya dengar dari Budayawan Universitas Hasanuddin, Alm. Ishak Ngeljaratan, "hidup bersama tidaklah cukup, lebih dari itu kita patut hidup bersesama".

Mari kita renungkan bersama:

Semua manusia sama-sama memiliki jiwa, tetapi berbeda kesadaran. Sama sifat, beda kualitas, sama pemikiran beda arah, sama nasib beda tujuan. Bersama-sama, berbeda-beda tetapi tidak satu oleh karena begitu dangkal kesadaran akan perbedaan yang merupakan “serpihan emas” dari persatuan dan kesatuan.

Tampak jelas bahwa masalah persatuan dan kesatuan adalah barang mahal bagi manusia. Rasa-rasanya masalah utama kita adalah potensi untuk tidak bersatu (baca; Motto GMKI), maka keprihatinan utama kita adalah sebaikanya ada upaya pembenihan kesadaran akan perbedaan.

Baiknya kita menyadari secara total bahwa Tuhan Alam Semesta, adalah sumber perbedaan. Dengan demikian, kesadaran akan perbedaan itu mengilhami terus dalam pemikiran, kata dan tindakan kita.

Segala sesuatu berbeda. Karena berbeda, segala sesuatu bergantung pada "sesuatu". Apakah itu sesuatu? ialah Beda. Tuhan adalah pangkal sekaligus akhir perbedaan. DariNya tercipta perbedaan dan padaNya segala perbedaan akan bermuara. Untuk satu maksud, yakni manusia meyakini Tuhan sebagai Mahabeda, Tuhan sengaja menciptkan perbedaan.

Makrokosmos dibuatNya berbeda dengan manusia (mikrokosmos). Peristiwa alam diaturNya sedemikian indah dan betapa alami berbeda dengan sejarah hidup manusia yang kebanyakan dibuat-buat. 

Pelangi, sintesis dari pertentangan warna. Dan itu indah sekali. Oleh pelangi, Tuhan layak dipuji sebagai Mahaindah.

Segala perbedaan berpangkal padaNya dan akan kembali padaNya. Realitas perbedaan kita bersumber dari Yang Mahabeda. “Beda” mendahului satu. Dengan demikian, kesatuan yang kita upayakan pada saatnya ia hadir sebagai alat perjuangan dan bukanlah tujuan akhir. 

Kita bersepakat bahwa tujuan akhir bermasyarakat kita sebagai manusia Indonesia adalah adil, makmur dan sejahtera. Titik dimana kita memahami bahwa kedamaian merupakan buah dari benih-benih kesadaran akan perbedaan yang telah ditabur Tuhan sang mahabeda.

Editor: Sukma Alam


Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Inspirasi





Terkini



Dapatkan berita terkini setiap hari